Sabtu, 12 November 2011

Hikmah Silaturahmi

 

tali Edisi syawal
Bismillahirrahmanirrahim
Hikmah Silaturahmi

Syariat islam adalah agama yang sempurna. Relevansinya untuk segala zaman dan keadaan tidak diragukan. Kita pun yakin keindahannya tidak akan pernah pudar sejalan berputarnya waktu. Rahmatan lil’alamin, yang senantiasa menebar cinta dan kasih sayang dalam damai tutunannya. Islam agama fitrah, mendukung dan mengokohkan maslahat manusia demi tercapainya kebahagiaan yang hakiki.
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak lepas dari orang lain untuk mendukung kehidupannya. Berinteraksi satu sama lain dalam memenuhi kebutuhan duniawi maupun ukhrawi. Islam telah mengarahkan semuanya dengan hanif (lurus). Termasuk silaturahmi, bahkan islam sangat menekankan hal ini. Sebagai bukti Rasulullah ` bersabda yang artinya, “Tidak akan masuk surga seorang pemutus, yakni pemutus ikatan silaturahmi.” [H.R. Al Bukhari dan Muslim dari shahabat Jubair bin Muth’im z]. Hanya ada dua tempat nantinya, tidak ada yang ketiga, surga atau neraka. Tidak masuk surga berarti ancaman dengan neraka. Ini menunjukkan dosa yang besar. Artinya, silaturahmi merupakan perbuatan ketaatan kepada Allah. Ibadah yang besar dan mulia.
Menjaga hak kerabat
Berbuat ihsan (baik) kepada siapapun merupakan cerminan rahmat islam yang luas. Kepada Allah Al Khaliq sekaligus kepada makhluk seluruhnya. Kepada Al Khaliq kita harus memberikan peribadahan hanya kepada-Nya semata, patuh dan taat kepada-Nya, meninggalkan seluruh larangan-Nya. Kepada makhluk kita harus memberikan sikap empati dan kasih sayang, terlebih kepada kerabat dekat.
Karena besarnya hak kerabat daripada yang lain, maka secara khusus islam mensyariatkan silaturahmi untuk menjaga pemenuhan hak kerabat ini. Hal ini ditunjukkan dalam salah satu ayat-Nya yang mulia, Allah berfirman yang artinya, “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” [Q.S. Asy Syu’ara’:214]. Di awal dakwah islam, Rasulullah ` diperintahkan untuk mendakwahkan islam kepada kerabat terdekat terlebih dahulu sebelum yang lain, karena besarnya hak mereka yang harus ditunaikan, dengan memberikan perhatian besar kepada mereka, bimbingan ilmu, dan segala perbuatan makruf yang mungkin diwujudkan.
Memupuk ketakwaan
Silaturahmi adalah sarana memupuk ketakwaan kepada Allah, dengannya seseorang akan Allah mudahkan dalam ketaatan kepada-Nya, sekaligus dijauhkan dari perbuatan dosa dan kemaksiatan. Karena sebuah ketaatan akan membuahkan kataatan yang lainnya. Inilah barakah dari amal shalih. Sedangkan Allah telah menekankan kewajiban silaturahmi ini, dengan penyebutannya bersamaan dengan takwa kepada-Nya. Karena, termasuk konsekuensi dari pelaksanaan hak Allah adalah pemenuhan hak hamba. Allah berfirman yang artinya, “Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya, dan dari keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kalian saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian.” [Q.S. An Nisa:1].
Rasulullah ` pun telah menjelaskan dalam sebuah hadits yang artinya, “Siapa yang ingin untuk dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya menyambung tali silaturahmi dengan kerabatnya.” [H.R. Al Bukhari dari shahabat Abu Hurairah z]. Imam Ibnu Tin v menerangkan salah satu makna penjelasan hadist tersebut, bahwa penambahan umur maksudnya adalah barakahnya umur seseorang dengan karunia taufik dari Allah untuk mengamalkan ketaatan kepada-Nya, sehingga umurnya penuh makna dengan perkara yang bermanfaat baginya di akhirat. [Subulussalam].
Meluaskan rezeki dan memanjangkan umur
Hadits di atas menunjukkan kepada kita pula bahwa jalinan silaturahmi akan melapangkan pintu-pintu rezeki sekaligus menjadi sebab dipanjangkannya umur secara hakiki. Pintu rezeki akan terbuka lebar bagi orang yang menyambung silaturahmi. Karena amalan ini termasuk wujud ketaqwaan kepada Allah, sedangkan Ia subhanahu wata’ala menjamin rezeki bagi siapa pun yang bertaqwa kepada-Nya. Dalam salah satu ayat-Nya yang mulia Allah berfirman yang artinya, “Siapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Allah pasti akan memberikan baginya jalan keluar (dari segala kesempitan). Dan Allah akan memberikan rezeki kepadanya dari arah yang tidak ia sangka-sangka.” [Q.S. Ath Thalaq:2,3].
Adapun dipanjangkannya umur secara hakiki bagi seorang yang menjalin silaturahmi, tidaklah bertentangan dengan firman Allah yang  menyebutkan tentang patennya umur seseorang. Sebagaimana Allah berfirman yang artinya, “Maka apabila telah datang waktu ajal mereka, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” [Q.S. Al A’raf:34]. Syaikh Al Albani v menjelaskan bahwa Allah menjadikan silaturahmi sebagai sebab syar’i panjangnya umur seseorang. Demikian pula akhlak yang baik, dan sikap baik kepada tetangga sebagaimana disebutkan dalam sebagian hadits yang shahih. Hal ini tidak bertentangan dengan perkara yang sangat dimaklumi tentang ketetapan umur seseorang. Karena ketetapan ini adalah jika dilihat dari akhirnya. Seperti takdir seseorang akan menjadi orang yang bahagia atau sengsara, keduanya telah ditentukan. Hanya saja takdir ini sangat tergantung dengan sebab-sebab syari sebagaimana sabda Rasulullah ` yang artinya, “Beramallah kalian, sesungguhnya masing-masing dimudahkan kepada apa yang ia diciptakan baginya. Siapa yang termasuk orang berbahagia, ia akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan orang-orang yang berbahagia. Siapa yang termasuk sengsara, ia pun akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan orang-orang yang sengsara.” Kemudia beliau ` membaca firman Allah yang artinya, “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan jalan kemudahan baginya. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup (tidak memerlukan pertolongan Allah dan tidak bertakwa kepada-Nya), serta mendustakan pahala terbaik (surga), maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. [Q.S. Al Lail:5-10].” [H.R. muslim]. Sebagaimana pula iman. Iman bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan yang hal ini tidak bertentangan dengan apa yang telah ditetapkan dalam Al Lauhul Mahfudh (yaitu kitab induk yang terjaga di sisi Allah, tertulis padanya semua takdir dan segala yang terjadi, red), demikian pula umur bisa bertambah atau berkurang jika dilihat  dari sebab-sebabnya, ini pun tidak bertolak belakang dengan apa yang telah dituliskan dalam Al Lauhul Mahfudh. [Syarah Al Adabul Mufrad].

Menguatkan ukhuwah islamiyah imaniyah
Dengan silaturahmi akan terwujud ukhuwah yang  kuat, toleransi, dan saling tolong-menolong. Hati akan terbuka dan saling menerima, sehingga akan tumbuh rasa saling cinta dan perhatian terhadap sesama.  Rasulullah ` pun telah menghasung pada salah satu sebab demi terwujudnya hal ini, beliau bersabda yang artinya, “Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencinta. Tidakkah aku tunjukkan kalian pada sesuatu yang apabila kalian amalkan akan saling cinta? Sebarkanlah salam di antara kalian.” [H.R. Muslim dari shahabat Abu Hurairah z]. Salam adalah bagian dari silaturahmi. Inilah hikmah yang ingin dicapai, saling cinta, persatuan di atas agama yang hanif ini. Marilah kita perhatikan, Allah Ta’ala pun telah mengingatkan kita tentang nikmat yang besar ini, nikmat persatuan secara khusus setelah Allah perintahkan kita untuk berpegangteguh dangan Al Quran. Allah berfirman yang artinya, “Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu menjadilah kalian karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara, dan kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian, agar kalian mendapat petunjuk.” [Q.S. Ali ‘Imran:103].
Demikian sekelumit hikmah silaturahmi, semoga Allah mudahkan kita dalam meraih fadhilahnya, sehingga menjadi timbangan kebaikan bagi kita. Allahu a’lam. [Farhan].
Bookmark and Share

Leave a Reply





tulis gambar diatas

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pengikut

Arsip Blog