Kamis, 05 April 2012

Membentengi Rumah dari Setan

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)
Setiap keluarga muslim pasti mendambakan ketenteraman dan ketenangan dalam rumah yang mereka huni, baik dia seorang suami, seorang istri, ataupun sebagai seorang anak. Semua ingin rumah mereka seperti kata orang: Baiti jannati, rumahku adalah surgaku. Bukan karena rumah itu mewah dilengkapi perabotannya yang wah, namun karena semua merasa tentram ketika masuk dan berada di dalamnya.
Seorang suami pulang ke rumah usai aktivitasnya di luar rumah, baik untuk mencari penghidupan ataupun untuk berdakwah. Ia masuk ke rumahnya, didapatinya rahah (lapang). Lelah dan kepenatannya serasa hilang saat bertemu dengan istri dan anak-anaknya. Ketenangan menyelimutinya.
Seorang istri merasa betah berdiam dalam rumahnya. Karena memang seperti titah Allah k kepada kaum hawa:
“Tetaplah kalian tinggal di rumah kalian.” (Al-Ahzab: 33)
Juga karena suasana dalam rumah turut mendukung timbulnya rasa betah tersebut.
Anak-anak pun merasa senang dalam rumah mereka walaupun rumahnya kecil dan sederhana.
Kerukunan dan kasih sayang senantiasa terjalin di antara anggotanya.
Gambaran seperti yang kita ungkapkan tentunya menjadi keinginan setiap insan. Lalu, apa rahasianya untuk mewujudkan baiti jannati tersebut? Di antara faktor yang sangat penting adalah menjauhkan rumah dari para setan. Kenapa demikian? Karena setan merupakan musuh anak Adam, sebagaimana firman Allah k:
“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagi kalian maka jadikanlah dia sebagai musuh.” (Fathir: 6)
Yang namanya musuh tentu selalu berupaya mencari celah untuk mencelakakan orang yang dimusuhinya. Yang disebut musuh pasti ingin menghancurkan orang yang dimusuhinya. Salah satu target utama setan adalah merusak sebuah keluarga, menghancurkan ikatan di antara anggota-anggotanya.
Iblis, gembong para setan, demikian bergembira bila anak buahnya berhasil memisahkan seorang istri dari suaminya. Sebagaimana kabar dari Rasulullah n:
إِنَّ إِبلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْماَءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً، يَجِيءُ أَحَدُهُم فَيَقُولُ: فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا. قَالَ: مَا صَنَعْتَ شَيْئًا. ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ. قَالَ: فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ: نِعْمَ أَنْتَ
Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas air lantas ia mengirim kan tentara-tentaranya. Maka yang paling dekat di antara mereka dengan iblis adalah yang paling besar fitnah yang ditimbulkannya. Datang salah seorang dari anak buah iblis menghadap iblis seraya berkata, “Aku telah melakukan ini dan itu.” Iblis menjawab, “Engkau belum melakukan apa-apa.” Lalu datang setan yang lain melaporkan, “Tidaklah aku meninggalkan dia (anak Adam yang diganggunya) hingga aku berhasil memisahkan dia dengan istrinya.” Maka iblis pun mendekatkan anak buahnya tersebut dengan dirinya dan memujinya, “Engkaulah yang terbaik.” (HR. Muslim no. 7037)
Al-Imam An-Nawawi t menerangkan bahwa iblis bermarkas di lautan, dan dari situlah ia mengirim tentara-tentaranya ke penjuru bumi. Iblis memuji anak buahnya yang berhasil memisahkan suami dengan istrinya, karena kagum dengan apa yang dilakukan si anak buah dan ia dapat mencapai puncak tujuan yang dikehendaki iblis. Iblis pun merangkulnya. (Al-Minhaj, 17/154-155)
Kata Al-Imam Al-Qadhi Iyadh t, hadits ini menunjukkan besarnya perkara firaq (perpisahan suami dengan istrinya) dan talak, serta besarnya kemadharatan dan fitnahnya. Selain itu juga menunjukkan besarnya dosa orang yang berupaya memisahkan suami dari istrinya. Karena dengan berbuat demikian berarti memutuskan hubungan yang Allah l perintahkan untuk disambung, menceraiberaikan rahmah dan mawaddah yang Allah l jadikan di dalamnya, serta merobohkan rumah yang dibangun dalam Islam. (Ikmalul Mu’lim bi Fawa’id Muslim, 8/349)
Iblis berikut bala tentaranya ini berambisi menghancurkan hubungan suami dengan istrinya. Sementara suami dan istri ini tentunya bernaung dalam sebuah rumah. Nah, tentunya setan tidak akan tenang bila tidak bisa masuk ke rumah tersebut. Bila setan telah berhasil mendiami sebuah rumah, niscaya ia akan menebarkan kerusakan di dalamnya, sehingga terjadilah perselisihan di antara anak-anak dan perpisahan antara suami dengan istrinya. Berubahlah mawaddah (kasih sayang) menjadi ‘adawah (permusuhan), rahmah menjadi azab.
Dengan penjelasan yang telah lewat, pahamlah kita kenapa kita harus membentengi rumah kita dari setan yang terkutuk.
Di antara perkara yang bisa kita lakukan untuk membentengi rumah kita adalah:

1. Meng-ucapkan salam ketika masuk rumah dan banyak berzikir, baik di rumah ada orang atau tidak.
Al-Imam An-Nawawi t berkata, “Disenangi seseorang mengucapkan bismillah dan banyak berzikir kepada Allah l serta mengucapkan salam, sama saja apakah dalam rumah itu ada manusia atau tidak, berdasarkan firman Allah l:
“Apabila kalian masuk ke rumah-rumah maka ucapkanlah salam (kepada penghuninya yang berarti memberi salam) kepada diri-diri kalian sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberkahi lagi baik.” (An-Nur: 61) [Al-Adzkar, hal. 25]
Ahli tafsir berbeda pendapat tentang rumah yang dimaukan dalam ayat di atas. Ada yang berpendapat masjid. Ada yang berpendapat rumah yang dihuni. Adapula yang berpendapat rumah yang tidak ada seseorang di dalamnya. Ada yang mengatakan rumah orang lain, dan ada pula yang berpendapat rumah sendiri. (Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 12/209)
Ibnul ‘Arabi t menetapkan bahwa pendapat yang menyatakan rumah secara umum merupakan pendapat yang shahih, karena tidak ada dalil yang menunjukkan pengkhususan. Kalau rumah itu adalah rumah orang lain, maka ia ucapkan salam dan meminta izin kepada tuan rumah sebelum masuk ke dalamnya. Bila rumah itu kosong ia ucapkan, “As-salamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibadillahish shalihin” (Semoga keselamatan untuk kami dan untuk para hamba Allah l yang shalih). Demikian kata Ibnu Umar c. Namun bila dalam rumah itu ada keluarganya, anak-anaknya dan pembantunya, ia ucapkan “Assalamu ‘alaikum.”
Namun kata Ibnul Arabi t, bila rumah itu kosong maka tidak diharuskan seseorang mengucapkan salam ketika hendak masuk. Adapun bila engkau masuk rumahmu sendiri disenangi bagimu untuk berzikir kepada Allah l dengan mengatakan: “Masya Allah la quwwata illa billah.” (Ahkamul Qur’an, 3/1408-1409)
Ketika memberikan penjelasan terhadap surah Al-Kahfi ayat 39, Ibnul Arabi t menyatakan disenanginya berzikir kepada Allah l bila salah seorang dari kita masuk rumah atau masjid dengan mengucapkan: “Masya Allah la quwwata illa billah.” Asyhab berkata, “Al-Imam Malik  t mengatakan, ‘Sepantasnya setiap orang yang masuk ke rumahnya mengucapkan zikir ini’.” (Ahkamul Qur’an, 3/1240)
Abu Umamah Al-Bahili z, seorang sahabat Rasulullah n membawakan hadits dari Rasulullah n:
ثَلاَثَةٌ كُلُّهُمْ ضَامِنٌ عَلَى اللهِ k: رَجُلٌ خَرَجَ غَازِيًا فِي سَبِيْلِ اللهِ k، فَهُوَ ضَامِنٌ عَلَى اللهِ حَتَّى يَتَوَّفَاهُ فَيُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ، أَوْ يَرُدَّهُ بِمَا نَالَ مِنْ أَجْرٍ وَغَنِيْمَةٍ؛ وَرَجُلٌ رَاحَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَهُوَ ضَامِنٌ عَلَى اللهِ حَتَّى يَتَوَفَّاهُ فَيُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ، أَوْ يَرُدَّهُ بِمَا نَالَ مِنْ أَجْرٍ وَغَنِيْمَةٍ، وَرَجُلٌ دَخَلَ بَيْتَهُ بِسَلاَمٍ فَهُوَ ضَامِنٌ عَلَى اللهِ k
Ada tiga golongan yang mereka seluruhnya berada dalam jaminan Allah k: (Pertama) seseorang yang keluar berperang di jalan Allah k maka ia berada dalam jaminan Allah k hingga Allah k mewafatkannya lalu memasukkannya ke dalam surga, atau mengembalikannya (ke keluarganya) dengan pahala dan ghanimah yang diperolehnya. (Kedua) seseorang berangkat ke masjid maka ia berada dalam jaminan Allah k hingga Allah k mewafatkannya lalu memasukkannya ke dalam surga, atau mengembalikannya dengan pahala dan ghanimah yang diperolehnya. (Ketiga) seseorang masuk ke rumahnya dengan mengucapkan salam maka ia berada dalam jaminan Allah k.” (HR. Abu Dawud no. 2494)
Makna jaminan Allah l adalah berada dalam penjagaan Allah k. (Al-Adzkar, hal. 26)

2. Berzikir kepada Allah l ketika makan dan minum.
Jabir bin Abdillah c berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah n bersabda:
إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللهَ عِنْدَ دُخُوْلِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ: لاَ مَبِيْتَ لَكُمْ وَلاَ عَشَاءَ. وَإِذَا دَخَلَ فَلَمْ يَذْكُرِ اللهَ عِنْدَ دُخُوْلِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ: أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيْتَ. وَإِذَا لَمْ يَذْكُرِ اللهَ عِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ: أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيْتَ وَالْعَشَاءَُ
Apabila seseorang masuk ke rumahnya lalu ia berzikir kepada Allah saat masuknya dan ketika hendak menyantap makanannya, berkatalah setan, “Tidak ada tempat bermalam bagi kalian dan tidak ada makan malam.” Bila ia masuk rumah dalam keadaan tidak berzikir kepada Allah ketika masuknya, berkatalah setan, “Kalian mendapatkan tempat bermalam.” Bila ia tidak berzikir kepada Allah ketika makannya, berkatalah setan, “Kalian mendapatkan tempat bermalam sekaligus makan malam.” (HR. Muslim no. 5230)
Berzikir kepada Allah l akan mengusir setan dari rumah kita sehingga setan tidak dapat menyertai kita saat makan dan tidur. Sementara, lalai dari zikrullah akan memberikan kesempatan emas bagi setan karena ia mendapati tempat menginap plus makan malamnya. Tentunya setan ini tidak sendirian. Bersamanya ada kawan-kawannya, gerombolan setan, karena setan mengucapkan ucapan demikian kepada teman-teman, pembantu-pembantu, dan sahabatnya. (Al-Minhaj, 11/191)
Sehingga mereka menyesakkan rumah dan bersenang-senang di dalamnya, na’udzu billah. Maka berhati-hatilah, jangan sampai kita lalai dari berzikir karena zikir merupakan hishnul muslim, benteng bagi seorang muslim.

3. Banyak membaca Al-Qur’an dalam rumah
Al-Qur’anul Karim akan mengharumkan rumah seorang muslim dan akan mengusir para setan. Abu Musa Al-Asy’ari z mengabarkan dari Nabi n:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِيْ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الْأَتْرُجَّةِ، رِيْحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ. وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ التَّمْرَةِ، لاَ رِيْحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ. وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِيْ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ، رِيْحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ. وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِيْ لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ، لَيْسَ لَهَا رِيْحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ
“Permisalan seorang mukmin yang membaca Al-Qur’an adalah seperti buah atrujah, baunya harum dan rasanya enak. Permisalan seorang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an seperti buah kurma, tidak ada baunya namun rasanya manis. Adapun orang munafik yang membaca Al-Qur’an permisalannya seperti buah raihanah, baunya wangi tapi rasanya pahit. Sementara orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an seperti buah hanzhalah, tidak ada baunya, rasanya pun pahit.” (HR. Al-Bukhari no. 5020 dan Muslim no. 1857)
Apa persangkaan anda bila seorang mukmin sering menghiasi rumahnya dengan membaca dan mentartilkan kalamullah? Tidak lain tentunya kebaikan.
Disamping itu, membaca Al-Qur’an di rumah dengan penuh kekhusyukan menjadikan para malaikat akan mendekat. Seperti kejadian yang pernah dialami seorang sahabat Rasulullah n yang bernama Usaid ibnu Hudhair z. Suatu malam Usaid tengah membaca Al-Qur’an di tempat pengeringan kurma miliknya. Tiba-tiba kudanya melompat. Ia membaca lagi, kudanya melompat lagi. Ia terus melanjutkan bacaannya dan kudanya juga melompat. Usaid berkata, “Aku pun khawatir bila sampai kuda itu menginjak Yahya (putra Usaid, pen.), hingga aku bangkit menuju kuda tersebut. Ternyata aku dapati di atas kepalaku ada semacam naungan. Di dalamnya seperti lentera-lentera yang terus naik ke udara sampai aku tidak melihatnya lagi (hilang dari pandanganku). Di pagi harinya aku menemui Rasulullah n.” Usaid kemudian menceritakan apa yang dialaminya, setelahnya Rasulullah n menjelaskan:
تِلْكَ الْمَلاَئِكَةُ كَانَتْ تَسْتَمِعُ لَكَ، وَلَوْ قَرَأْتَ لَأَصْبَحَتْ يَرَاهَا النَّاسُ، مَا تَسْتَتِرُ مِنْهُمْ
“Itu adalah para malaikat yang mendengarkan bacaanmu. Seandainya engkau terus membaca Al-Qur’an niscaya di pagi harinya manusia akan dapat melihat naungan tersebut, tidak tertutup dari mereka. “ (HR. Muslim no. 1856
Dalam riwayat Al-Bukhari (no. 5011) dari Al-Bara’ z, ia berkata, “Ada seorang lelaki membaca surah Al-Kahfi sementara di sisinya ada seekor kuda yang diikat dengan dua tali. Lalu orang tersebut diliputi oleh awan yang mendekat dan mendekat. Mulailah kudanya lari karena terkejut. Ketika di pagi harinya ia mendatangi Nabi n, lalu diceritakannya kejadian yang dialaminya maka Nabi n bersabda:
تِلْكَ السَّكِيْنَةُ تَنَزَّلَتْ بِالْقُرْآنِ
“Itu adalah as-sakinah yang turun dengan Al-Qur’an.”
Diperbincangkan oleh para ulama seperti apa as-sakinah tersebut. Namun pendapat yang terpilih, kata Al-Imam An-Nawawi t, as-sakinah adalah sesuatu dari makhluk-makhluk yang di dalamnya ada thuma’ninah (ketenangan), rahmah (kasih sayang), dan bersamanya ada para malaikat. (Fathul Bari, 9/73)

4. Membaca surah Al-Baqarah dalam rumah
Bila engkau merasa di rumahmu demikian banyak masalah, tampak banyak penyimpangan dan anggota-anggotanya saling berselisih, maka ketahuilah setan hadir di rumahmu, maka bersungguh-sungguhlah mengusirnya. Bagaimanakah cara mengusirnya? Rasulullah n memberikan jawabannya dengan sabda beliau:
إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ سَنَامًا، وَسَنَامُ الْقُرْآنِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ إِذَا سَمِعَ سُوْرَةَ الْبَقَرَةِ تُقْرَأُ خَرَجَ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي يُقْرُأُ فِيْهِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ
“Sesungguhnya segala sesuatu ada puncaknya (punuknya) dan puncak dari Al-Qur’an adalah surah Al-Baqarah. Sungguh setan bila mendengar dibacakannya surah Al-Baqarah, ia akan keluar dari rumah yang di dalamnya dibacakan surat Al-Baqarah tersebut.” (HR. Al-Hakim, dihasankan Al-Albani t dalam Ash-Shahihah no. 588)
Abu Hurairah z mengabarkan dari Rasulullah n, beliau bersabda:
لاَ تَجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ
“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan. Sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan surah Al-Baqarah.” (HR. Muslim no. 1821)

5. Banyak melakukan shalat nafilah/sunnah di rumah
Ibnu Umar c menyampaikan bahwa Nabi n bersabda:
اجْعَلُوْا مِنْ صَلاَتِكُمْ فِي بُيُوْتِكُمْ وَلاَ تَتَّخِذُوْهَا قُبُوْرًا
“Jadikanlah bagian dari shalat kalian di rumah-rumah kalian, dan jangan kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan.” (HR. Al-Bukhari no. 432 dan Muslim no. 1817)
Dalam syariat disebutkan pelarangan shalat di kuburan. Karenanya, Rasulullah n melarang kita menjadikan rumah kita seperti kuburan, dengan tidak pernah dilakukan ibadah di dalamnya. Beliau menghasung kita agar memberi bagian shalat sunnah untuk dikerjakan di dalam rumah.
Al-Imam An-Nawawi t berkata, “Rasulullah n memberikan hasungan untuk mengerjakan shalat nafilah (sunnah) di rumah, karena hal itu lebih ringan dan lebih jauh dari riya, lebih menjaga dari perkara yang dapat membatalkannya. Juga dengan mengerjakan shalat nafilah di rumah akan memberi keberkahan bagi rumah tersebut. Akan turun rahmah di dalamnya, demikian pula para malaikat. Sementara setan akan lari dari rumah tersebut.” (Al-Minhaj, 6/309)
Dalam hadits yang lain Rasulullah n memerintahkan:
فَعَلَيْكُمْ بِالصَّلاَةِ فِي بُيُوْتِكُمْ فَإِنَّ خَيْرَ صَلاَةِ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلاَّ الصَّلاَةَ الْمَكْتُوْبَةَ
“Seharusnya bagi kalian untuk mengerjakan shalat di rumah-rumah kalian karena sebaik-baik shalat seseorang adalah di rumahnya terkecuali shalat wajib.” (HR. Al-Bukhari no. 731 dan Muslim no. 1822 )
Abu Musa Al-Asy’ari z menyampaikan sabda Rasulullah n:
مَثَلُ الْبَيْتِ الَّذِي يُذْكَرُ اللهُ فِيْهِ وَالْبَيْتِ الَّذِيْ لاَ يُذْكَرُ اللهُ فِيْهِ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ
“Permisalan rumah yang disebut nama Allah di dalamnya dan rumah yang tidak disebut nama Allah di dalamnya seperti permisalan orang yang hidup dan orang yang mati.” (HR. Muslim no. 1820)

Rabu, 04 April 2012

Download

Bismillaah
Sekedar share, silahkan di download. Semoga bermanfaat

A. E-Book :

Berkenalan dengan Salaf
Firqoh-Firqoh Sesat
Manhaj Ahlus Sunnah Dalam Mengkritik
Bid'ah dan Kesesatannya
Terjemah Kitabut Tauhid
Terjemah Kasyfusy Syubhat
Terjemah Ushul Tsalatsah
Terjemah Riyadush Shalihin 1
Terjemah Riyadush Shalihin 2
Adabuz Zifaf
Shohiih Dhaiif Al Jamiush Shaghiir
Panduan Puasa Ramadhan,pdf
Indahnya Shalat Malam (Tuntunan Qiyamul Lail dan Sholat Tarawih)

B. Murottal Al Qur'an
Imam Ahlussunnah : Syaikh Nashiruddin Al Albani -rahimahullah-, Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Bazz -rahimahullah-, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Syaikh Sholih bin Sa’ad As-Suhaimi, Asy-Syaikh ‘Ubaid Al-Jabiri -hafizhahullah-, Syaikh Abdullah Al Qor’awi, Syaikh Abdul ‘Aziz Ar Rajihi, Syaikh Abdussalam Barjas, Syaikh Muhammad Amin Asy Syinqithi (pengarang tafsir Adhwaul Bayan), Syaikh Abdullah bin ‘Utsman Adz-Dzamari Al-Yamani, Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam (Yaman), Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al Wushabi -hafizhahullah-
, Syaikh Abdul ‘Aziz Al Bura’i -hafizhahullah-, Syaikh Utsman As Salimi -hafizhahullah-
, Asy-Syaikh Abu Abdirrahman Abdullah bin ‘Umar bin Mar’i bin Braik Al’Adni, Mudir Ma’had Darul Hadits Syihr, Hadhramaut, Yaman

Imam Tarawih :Madinah Tarawih 1427, Madinah Tarawih 1428, Makkah Tarawih 1427, Makkah Tarawih 1428, Makkah Tarawih 1429, Makkah Tarawih 1430

Qori' lainnya : Abu Bakr al-Shatri, Ahmed ibn Ali al-Ajmy, Ali Abdur-Rahman al-Huthaify, Abdur-Rahman as-Sudais, Saad al-Ghamdi, Hani ar-Rifai, Mishari Rashid al-`Afasy

Murottal Anak : Abdullah bin Muhammad Ba Karman, Muhammad Thoha Junaid, Hasan Bin Abdillah Bir'iyyi, Ahmad Su'ud, Yusuf Kalu 'Ali

C. Downlad Kajian dari ilmoe :

1. Meraih Amalan Mulia Fadhailil A’mal, Al Ustadz Abu Karimah Askari
(Beliau adalah pemimpin Pondok Pesantren Ibnu Qoyim Balikpapan. Beliau alumni dari Darul Hadits Dammaj, Yaman tempat Asy Syaikh Muqbil mengajar)
Bagian 01 zip, 02 zip, 03 zip, 04 zip, 05 zip, 06 zip, 07 zip, 08 zip, 09 zip, 10 zip, 11 zip, 12 zip, 13 zip, 14 zip, 15 zip, 16 zip, 17 zip, 18 zip, 19 zip, 20 zip

2. Menjaga Ukhuwah dengan Keikhlasan, Al Ustadz Muhammad ‘Umar As Sewed
(Beliau adalah pemimpin Pondok Pesantren Dhiyaussunnah Cirebon, Beliau pernah belajar dengan Syaikh Utsaimin)
Bagian 1 zip, 2 zip, Session Tanya Jawab
Dauroh Jogja, Menjaga Ukhuwah dengan keikhlasan
Dauroh Madiun, Persatuan Umat Islam Diatas Al Qur'an dan As Sunnah, Sesi 1, Sesi 2

3. Aqidah Dasar, Kasyfusy Syubhat, Al Ustadz Luqman bin Muhammad Ba'abduh
(Beliau Pemimpin Pondok Pesantren As Salafy Jember. Beliau adalah alumni Darul Hadits Yaman dimana beliau menimba ilmu kepada Asy Syaikh Muqbil).
Bagian 01, 02, 03, 04, 05, 06, 07, 08, 09, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21

4. Dauroh Fikih Nasional, Al Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnaen As Sunusi
(Beliau adalah salah satu pengajar di Pondok Pesantren As Sunnah Makasar. Beliau alumni dari Darul Hadits Yaman dimana beliau menimba ilmu kepada Asy Syaikh Muqbil. Beliau sering mengadakan perjalanan ke Arab Saudi untuk belajar ilmu agama kepada ulama yang ada di negeri tersebut.)
Kitab Ad Durarul Bahiyah Fil Masaailil Fiqhiyah
Pembukaan
Muqaddimah
Definisi & Hukum Thaharah
Air, Najis, Mensucikan Najis dan Membuang Hajat
Wudhu, Sunnah-Sunnah & Pembatalnya
Mandi -Rukun,Sunnah & Yang Disyariatkan-, Tayammum, Haidh & Nifas dan Waktu-Waktu Shalat
Waktu-Waktu Shalat, Adzan, Syarat-Syarat & Tata Cara Shalat
Pembatal Shalat, Shalat Orang yang Berudzur, Shalat Sunnah, Shalat Jama'ah
Sujud Sahwi, Mengqadha Shalat, Shalat Jum'at
Shalat Iedain, Shalat Khauf
Kiat Menuntut Ilmu, Al Ustadz Khaidr
Shalatnya Musafir, Shalat Gerhana & Istisqa, Membesuk Orang yang Sakit, Memandikan Jenazah
Mengkafani Jenazah, Menyolati, Mengiringi & Menguburnya
Zakat
Golongan yang Diharamkan Menerima Zakat, Zakat Fitri & Tentang Seperlima Bagian yang Dikeluarkan Bag.1
Golongan yang Diharamkan Menerima Zakat, Zakat Fitri & Tentang Seperlima Bagian yang Dikeluarkan Bag.2
Tanya Jawab Hari Keempat
Puasa -Pembatalnya, Qadha', Sunnah- & I'tikaf
Potret Salaf Sabar dalam Menuntut Ilmu, Al Ustadz Ibnu Yunus
Haji -Penentuan, Jenis Manasik, Larangan dalam Ihram, Thawaf-
Sa'i, Perincian Manasik Haji, Hadyu, Umroh
Tanya Jawab
Nikah
Tausiyah Al Ustadz Luqman Jamal
Talak, Khulu', Ila', Zhihar
Li'an, Iddah
Istibra', Nafkah, Persusuan, Hidhanah, Seputar Jual Beli
Rincian Jual Beli yang Diharamkan, Riba
Tausiyah Al Ustadz Abu Ahmad Solo
Khiyar, Salam, Peminjaman, Syuf'ah
Sewa Menyewa, Penghidupan & Pembagian Lahan, Perserikatan
Jaminan Gadai, Titipan & Pinjaman, Penguasaan Harta Orang Lain Tanpa Hak, Pembebasan Budak
Wakaf, Hadiah, Sumpah 01
Wakaf, Hadiah, Sumpah 02
Wakaf, Hadiah, Sumpah 03
Nadzar
Nadzar, Makanan, Hewan Buruan, Penyembelihan
Tausiyah Al Ustadz Abdussalam Ambon
Menjamu Tamu, Etika Makanan, Minuman, Pakaian, Hewan Qurban
Walimah, Aqiqah, Pengobatan, Wakalah, Dhamamah, Shulh
Hawalah, Orang yang Bangkrut, Barang Temuan
Qadha, Khushumah, Bukti & Pengakuan
Hudud, Had
Ta'zir, Rincian Golongan yang Dibunuh secara Had, Qishash
Muhadharah Syaikh Sholih Fauzan
Nasehat Al Ustadz Dzulqornaen Sebelum Muhadharah Syaikh Fauzan
Diyah & Qasamah
Wasiat, Waris, Jihad, Perjalanan Perang
Tausiyah Al Ustadz Manshur, Bekal Menuju Akhirat
Hukum yang Berkaitan dengan Ghanimah, Tawanan, Mata-mata, Perdamaian
Tausiyah Al Ustadz Shobaruddin
Penutupan Panitia Dauroh
Muhadharah Syaikh Zaid bin Muhammad Al Madkhali
Tausiyah Al Ustadz Fadli, Istiqomah
Penutupan Dauroh Fikih Nasional
Sesi Tanya Jawab

5. Hak Seorang Muslim, Al Ustadz Muhammad Afifuddin As Sidawy (Beliau adalah salah satu pengajar di Pondok Pesantren Al Bayyinah Gresik Jawa Timur. Beliau alumni dari Darul Hadits Yaman dimana beliau menimba ilmu kepada Asy Syaikh Muqbil).
Bagian 01, 02, 03, 04, 05, 06, 07, 08, 09

6. Polemik Khilafah Islamiyah
Polemik Negara Islam, Al Ustadz Luqman Ba'abduh, Sesi 1, Sesi 2
Penegakan Syariat Islam, Al Ustadz Muhammad Afifuddin, Sesi 1
Sesi 2, Sesi 3

7. Kumpulan Kajian Membantah Aksi Teroris Indonesia
Terorisme 01, Al Ustadz Muhammad ‘Umar As Sewed , Sesi 2, Sesi 3
Jihad Terorisme Dalam Timbangan Syariat 01, Al Ustadz Dzulqornaen, Sesi 2, Sesi 3
Agar Anak Tidak Menjadi Teroris 01, Al Ustadz Afifuddin, Sesi 2, Sesi 3
Terorisme 01, Al Ustadz Ali Basuki Lc, Sesi 2,Sesi 3
Antara Wahabi dengan Teroris 01, Al Ustadz Dzulqornaen, Sesi 2, Sesi 3
Terorisme 01, Al Ustadz Muhammad 'Umar As Sewed, Sesi 2, Sesi 3
Terorisme Berkedok Jihad 01, Al Ustadz Dzulqornaen, Sesi 2

8. Dauroh Masyaikh

Daurah Masyaikh Nasional, 2009
Al Ustadz Abdul Barr
Al Ustadz Muhammad Rijal
Sambutan Dauroh Masyaikh Nasional di Bantul
Asy Syaikh Dr. AbdullahAlBukhari, Saudi Arabia
Asy Syaikh Khalid Azh Zhafiri, Kuwait
Tausiyah Al Ustadz Mukhtar
Tausiyah Al Ustadz Adnan
Asy Syaikh Dr.Abdullah Al Bukhari
Asy Syaikh Ali Bin Yahya Al Haddadi, Saudi Arabia
Asy Syaikh Abdullah Bin Shalfiq Azh Dzufairi, Saudi Arabia
Tausiyah Al Ustadz Ihsan
Asy Syaikh Ali Bin Yahya Al Haddadi, Saudi Arabia
Asy Syaikh Abdullah Bin Shalfiq Azh Dzufairi, Saudi Arabia
Muhadharah Syaikh Ali bin Yahya al Haddadiy di Jakarta (Bagian 1), Bagian 2
Muhadharah Syaikh DR Khalid Azh Zhafiri di Bandung
Muhadharah Syaikh DR Khalid Azh Zhafiri di Surabaya

Dauroh Masyaikh Nasional, 2010
1. di Bantul
Tausiyah Subuh Ustadz Afifuddin
Pembukaan
Syaikh Muhammad Bazmul
Syaikh Khalid Adz Dzafirii, Rukun Iman 01
Syaikh Khalid Adz Dzafirii, Rukun Iman 02
Ustadz Muhammad Ikhsan, Tawadhdhu
Ustadz Adnan, Nasehat Lukman Pada Anaknya
Syaikh Muhammad Bazmul, Nasehat Thd Sesama muslim 03
Syaikh Muhammad Bazmul, Nasehat Thd Sesama muslim 04
Muhadhoroh Syaikh Khalid Adz Dzafiri, Rukun Iman 03
Berhias Dengan Ahklaq Mulia
Teleconference Dengan Syaikh Robi’ bin Hadi Al Madkhali
Tambahan dari Syaikh Khalid Adz Dzafiri
2. di Medan
Asy Syaikh Abdullah Al Mari,Yaman & Asy Syaikh Muhammad Ghalib,Saudi Arabia
3. di Balikpapan
Asy Syaikh Abdullah Al Mari,Yaman & Asy Syaikh Muhammad Ghalib,Saudi Arabia
Asy Syaikh Muhammad Ghalib, alihbahasa Al Ustadz Qomar
Asy Syaikh Abdullah Al Mari,Yaman_alihbahasa Al Ustadz Askari
Asy Syaikh Muhammad Ghalib, Sebab Terjatuh dalam Maksiat
Asy Syaikh Abdullah Al Mari, Tanya Jawab
4. di Makassar
Asy Syaikh Abdullah Al Mari,Yaman & Asy Syaikh Muhammad Ghalib,Saudi Arabia
Asy Syaikh Abdullah Al Mari,Yaman di Masjid Al Markaz Al Islamy_alihbahasa Al Ustadz Dzulqarnain
Asy Syaikh Muhammad Ghalib Hassan di Masjid Al Markaz Al Islamy_alihbahasa Al Ustadz Ibnu Yunus
Asy Syaikh Muhammad Ghalib Hassan di Masjid PP Tanwirussunnah Gowa_alihbahasa Al Ustadz Ibnu Yunus
5. di Denpasar, Bali
Sesi Pagi, Ba'da Ashar, Tanya Jawab
6. di Ngawi
Pembukaan, Sambutan, Sesi 1A, Sesi 1B, Sesi 2A, Sesi 2B, Sesi 3, Tausiyah Al Ustadz Muhammad Afifudin
6. di Jakarta
Asy Syaikh Muhammad Ghalib Hassan , Asy Syaikh Abdullah Al Mari
7. di Depok
Asy Syaikh Abdullah Al Mari

Dauroh Masyaikh Nasional, 2011
1.Syaikh Abdullah Mar’i (taushiyah dan pembahasan kitab Adabul ‘Usyrah) :
- Taushiyah Syaikh Abdullah Mar’i
- Adabul ‘Usyrah 01
- Adabul ‘Usyrah 02
- Adabul ‘Usyrah 03
- Adabul ‘Usyrah 04
- Adabul ‘Usyrah 05 Selengkapnya

Ummu Darda’ Ash-Shughra

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

Seorang anak perempuan yatim diasuh oleh Abud Darda’ ‘Uwaimir Al-Anshari z. Hujaimah bintu Huyai Al-Washshabiyah rahimahallah namanya, berasal dari Washshab, salah satu kabilah di Himyar.
Selama dalam asuhan Abud Darda’ z, Hujaimah kecil biasa diajak oleh Abud Darda’ menghadiri shalat berjamaah di tengah shaf laki-laki dengan mengenakan burnus, sejenis pakaian yang mempunyai penutup kepala, dan duduk bersamanya di halaqah-halaqah  para pembaca Al-Qur’an untuk mempelajari Al-Qur’an. Ketika mulai beranjak besar, Abud Darda’ menyuruh Hujaimah untuk bergabung dengan shaf para wanita.
Tumbuh dalam asuhan seorang sahabat yang mulia, dengan keutamaan Allah l, Hujaimah menjadi seorang wanita yang berilmu. Kemudian Abud Darda’ z meminang Hujaimah kepada keluarganya kemudian menikahinya. Berkunyahlah Hujaimah dengan nama Ummud Darda’ Ash-Shughra.1
Dalam perjalanannya menempuh rumah tangga bersama Ummud Darda’ Ash-Shughra rahimahallah, Abud Darda’ z pernah berpesan, “Bila kau marah, aku membuatmu ridha kembali. Karena itu, bila aku marah buatlah aku ridha. Kalau tidak demikian, betapa cepatnya kita akan berpisah.”
Ummud Darda’ semakin banyak mengambil ilmu dari suaminya. Selain dari Abud Darda’, Ummud Darda’ Ash-Shughra juga mengambil riwayat dari Fadhalah bin ‘Ubaid Al-Anshari, Salman Al-Farisi, Ka’b bin ‘Ashim Al-Asy’ari, Ummul Mukminin ‘Aisyah, Abu Hurairah, serta para sahabat yang lain g.
Menjelang Abud Darda’ z wafat, Ummud Darda’ pernah mengatakan kepadanya, “Dulu kau pinang diriku pada keluargaku di dunia, lalu mereka menikahkanku denganmu. Sekarang kupinang engkau kepada dirimu untuk nanti di akhirat.”
“Kalau begitu, jangan engkau menikah lagi sepeninggalku,” ujar Abud Darda’.
Ummud Darda’ benar-benar memenuhi permintaan Abud Darda’. Setelah meninggalnya Abud Darda’, Mu’awiyah bin Abi Sufyan z datang menyampaikan pinangan. Saat itu Ummud Darda’ masih muda dan dikenal kecantikannya. Ummud Darda’ menolak. “Tidak,” katanya, “Aku tidak akan menikah lagi dengan seorang pun di dunia sampai aku menikah dengan Abud Darda’ di dalam surga, insya Allah.”
“Kalau demikian, hendaknya engkau memperbanyak puasa,” kata Mu’awiyah.
Ummud Darda’ rahimahallah dikenal dengan ilmu, amal, dan zuhudnya. Sekian banyak orang yang mengambil ilmu dan riwayat darinya. Banyak pujian yang menunjukkan kemuliaannya sebagai seorang faqih. Banyak pula nasihat yang dia tinggalkan.
‘Abdur Rabbih bin Sulaiman bin ‘Umair bin Zaitun mengatakan, “Ummud Darda’ pernah menuliskan untukku di lembaran catatanku tentang hikmah yang diajarkannya kepadaku, ‘Pelajarilah hikmah semasa mudamu, niscaya nanti akan kau amalkan di masa tuamu, karena setiap orang yang menanam pasti kelak akan menuai hasilnya, baik berupa kebaikan ataupun kejelekan’.”
‘Utsman bin Hayyan, maula Ummud Darda’ mengisahkan: Aku pernah mendengar Ummud Darda’ mengatakan, “Bagaimana kiranya keadaan salah seorang di antara kalian yang mengatakan: ‘Ya Allah, berilah aku rezeki’, sementara dia tahu bahwa Allah l tidaklah menurunkan hujan dinar ataupun dirham dari langit. Namun Allah l berikan rezeki sebagian dari sebagian yang lain. Karena itu, barangsiapa yang diberi, hendaknya menerima pemberian itu. Barangsiapa berkecukupan, hendaknya memberi saudaranya yang memiliki kebutuhan. Dan jika dia fakir, hendaknya meminta tolong kepadanya untuk memenuhi kebutuhannya, dan janganlah dia menolak rezeki yang telah Allah l berikan kepadanya’.”
Ummud Darda’ rahimahallah pernah pula memberikan nasihat, “Sungguh berzikir kepada Allah l itu adalah perkara yang paling besar. Kalau engkau shalat, maka itu termasuk zikrullah. Kalau engkau puasa, maka itu juga termasuk zikrullah. Segala kebaikan yang kaulakukan, itu pun termasuk zikrullah. Setiap kejelekan yang kaujauhi, maka itu termasuk zikrullah. Dan yang paling utama adalah bertasbih kepada Allah k.”
‘Utsman bin Hayyan menceritakan pula, “Kami pernah makan bersama Ummud Darda’, lalu kami lupa memuji Allah l. Ummud Darda’ pun mengatakan, ‘Nak, jangan kalian lupa membumbui makanan kalian dengan zikrullah. Makan disertai memuji Allah l itu lebih baik daripada makan sambil diam saja (tidak memuji Allah l, pen.)’.”
Ummud Darda’ rahimahallah sempat menunaikan ibadah haji pada tahun 81 H. Ummud Darda’ Ash-Shughra rahimahallah, sebuah permisalan kehidupan seorang wanita yang sarat dengan kebaikan. Semoga Allah l meridhainya….

Sumber bacaan:
Siyar A’lamin Nubala’, Al-Imam Adz-Dzahabi (4/277-279)
Tahdzibul Kamal, Al-Imam Al-Mizzi (35/352-358)

Selasa, 03 April 2012

Adab Menggunakan HP

Di zaman modern ini, telah banyak teknologi yang memberi kemudahan bagi manusia dalam menjalankan aktivitasnya. Salah satu di antaranya adalah handphone (HP/Arab: jawwal), dimana dengan peranti tersebut, komunikasi bisa dilakukan dengan sangat mudah dan cepat. Seseorang yang berada di ujung dunia bisa menghubungi orang lain yang ada di belahan dunia lain dengan sangat mudah serta kapan pun ia mau. Kejadian yang terjadi di suatu daerah, bisa diinformasikan dengan cepat ke benua lainnya saat itu juga.
Tidak diragukan, keberadaan HP merupakan salah satu di antara sekian banyak nikmat Allah l. Maka agar nikmat tersebut bisa tetap terjaga dan benar-benar menjadi karunia bagi kita, perlu kita mensyukuri nikmat tersebut. Di antara bentuk syukur adalah menggunakan nikmat tersebut pada tempatnya serta menjadikannya sebagai sarana yang bisa membantu untuk kita menjalankan ketaatan kepada Allah l.
Namun, terkait dengan penggunaan HP ini, banyak hal yang justru bertentangan dengan nilai-nilai syukur. Yaitu tatkala teknologi seluler yang memberikan banyak kemudahan ini digunakan tidak pada tempatnya, bahkan dijadikan sebagai sarana baru untuk berbuat maksiat. Maka perlu kiranya kita menengok bagaimana bimbingan syariat Islam dalam memberikan rambu-rambu untuk bersikap dan berakhlak, serta mengetahui mana hal-hal yang boleh dan mana yang dilarang oleh Islam, untuk kemudian seorang muslim menerapkannya dalam penggunaan teknologi seluler tersebut.

Ini adalah risalah yang ditulis oleh Al-Akh Abu Ibrahim ‘Abdullah bin Ahmad bin Muqbil hafizhahullah, dengan mendapat taqrizh (pujian) dari Asy-Syaikh Al-’Allamah Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Al-Wushabi Al-‘Abdali hafizhahullah.
Risalah ini berisi tentang pembahasan 24 pedoman dan bimbingan syar’i dalam menggunakan HP. Saya mencukupkan untuk langsung menyebutkan pedoman-pedoman tersebut saja tanpa menyebutkan pujian Asy-Syaikh Al-Wushabi dan muqaddimah penulis.
Kami memulai dengan memuji Allah l.

Bimbingan pertama: Jagalah selalu ucapan salam yang Islami
Sebagian manusia telah terbiasa ketika membuka percakapan dalam telepon (salam pembuka) dengan kata ‘Hallo‘. Asal kata ini adalah dari bahasa Inggris, sehingga dari sini mereka telah terjatuh kepada sikap taklid kepada dunia Barat.
Sebagian yang lain menjadikan salam pembuka di antara mereka dalam bentuk celaan, caci makian, dan saling melaknat. Mereka tidaklah menempuh kecuali kebiasaan seperti ini. Kemudian jika telah selesai dari percakapannya ditutup dengan kalimat ‘sampai jumpa ‘ atau ‘bye bye‘.
Ini semua merupakan bentuk penyelisihan terhadap tuntunan yang diajarkan oleh Islam, yaitu mengucapkan salam dan senantiasa menjaganya, baik ketika memulai (berjumpa) maupun mengakhirinya (berpisah).
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah yang bukan rumah kalian sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian, agar kalian (selalu) ingat.” (An-Nur: 27)
Allah l juga berfirman:
“Maka apabila kalian memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kalian memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada diri kalian sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi barakah lagi baik.” (An-Nur: 61)
Dari Abu Hurairah z, beliau berkata: Rasulullah n bersabda:
حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ. قِيْلَ: مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ، وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللهَ فَشَمِّتْهُ، وإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ، وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ
“Hak seorang muslim terhadap muslim yang lainnya ada enam.” Ditanyakan kepada beliau: “Apa saja itu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Jika berjumpa ucapkan salam kepadanya, jika dia mengundangmu penuhilah undangannya, jika dia meminta nasihat kepadamu nasihatilah dia, jika dia bersin dan mengucapkan alhamdulillah maka ucapkan yarhamukallah, jika dia sakit jenguklah dia, jika dia meninggal maka iringilah jenazahnya.” (HR. Al-Bukhari no. 1183, Muslim no. 2162, dan ini adalah lafadz Al-Imam Muslim t)
Dari Imran bin Hushain z, dia berkata:
جَاءَ رَجُلٌ عَلَى النَّبِيِّ n فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ. فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ، ثُمَّ جَلَسَ فَقَالَ النَّبِيُّ n: عَشْرٌ. ثُمَّ جَاءَ آخَرُ، فَقَالَ: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ. فَرَدَّ النَّبِيُّ n عَلَيْهِ فَجَلَسَ، فَقَالَ: عِشْرُونَ. ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ. فَرَدَّ النَّبِيُّ n عَلَيِهِ فَجَلَسَ فَقَالَ: ثَلَاثُونَ
Seseorang datang kepada Nabi n kemudian mengucapkan: “Assalamu ‘alaikum.” Nabi n pun menjawab salamnya. Kemudian orang tadi duduk dan Nabi n pun mengatakan: “Sepuluh.” Kemudian datang orang yang berikutnya dan mengucapkan: “Assalamu ‘alaikum warahmatullah.” Maka Nabi pun menjawab salamnya. Orang tadi lalu duduk dan Nabi n pun mengatakan: “Dua puluh.” Kemudian datang orang yang berikutnya dan mengucapkan: “Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Nabi pun menjawab salamnya. Kemudian orang tadi duduk dan Nabi n pun mengatakan: “Tiga puluh.” (HR. Ahmad no. 19109, Abu Dawud no. 5195, At-Tirmidzi no. 2689, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud no. 5195 dan Shahih At-Tirmidzi no. 2689)
Dari Abu Hurairah z, dia berkata: Rasulullah n bersabda:
إِذَا انْتَهَى أَحَدُكُمْ إِلَى مَجْلِسٍ فَلْيُسَلِّمْ فَإِنْ بَدَا لَهُ أَنْ يَجْلِسَ فَلْيَجْلِسْ، ثُمَّ إِذَا قَامَ فَلْيُسَلِّمْ، فَلَيْسَتِ الْأُولَى أَحَقُّ مِنَ الْآخِرَةِ
“Jika salah seorang dari kalian sampai di suatu majelis, maka ucakanlah salam. Jika dipersilakan baginya untuk duduk, maka duduklah. Kemudian jika hendak berdiri (pergi) dari majelis tersebut, ucapkanlah salam. Yang pertama tadi tidaklah lebih berhak daripada yang terakhir.” (HR. Ahmad, Abu Dawud no. 5208, Ibnu Hibban, Al-Hakim. Asy-Syaikh Al-Albani berkata dalam Ash-Shahihul Jami’ hadits no. 400: “Shahih.” Demikian juga dalam As-Silsilah Ash-Shahihah pada hadits no. 183)

Bimbingan kedua: yang memulai salam
Siapakah yang memulai salam? Si penelpon ataukah yang ditelpon?
Yang memulai salam hendaknya si penelepon, karena dia seperti orang yang mengetuk pintu rumah orang lain dan meminta izin untuk masuk. Sehingga dia harus memulai pembicaraannya dengan ucapan: ‘Assalamu ‘alaikum‘ atau ‘Assalamu ‘alaikum warahmatullah‘ atau Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh‘.
Yang ditelepon pun hendaknya menjawab dengan mengucapkan: ‘Wa’alaikummussalam warahmatullahi wabarakatuh‘ atau dengan jawaban yang sama persis diucapkan oleh yang memberi salam.
Allah l berfirman:
“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).” (An-Nisa’: 86)
Kemudian, si penelpon hendaknya mengenalkan identitas dirinya dengan menyebut nama atau julukan/panggilannya kepada orang yang ditelepon tersebut, agar yang ditelepon tidak merasa kebingungan dengan siapa dia berbicara dan apa tujuannya.
(Insya Allah bersambung)

(diterjemahkan oleh Al-Ustadz Abu ‘Abdillah Kediri, dari http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=368419, diambil dari http://www.assalafy.org dengan sedikit perubahan)

Senin, 02 April 2012

Menghindari Banyak Makan

Di antara sebab terbesar yang membantu seseorang untuk tetap giat menuntut ilmu, memahaminya dan tidak jemu, adalah memakan sedikit dari sesuatu yang halal.
Al-Imam Asy-Syafi’i t berkata: “Aku tidak pernah kenyang semenjak 16 tahun lalu. Karena, banyak makan akan menyebabkan banyak minum, sedangkan banyak minum akan membangkitkan keinginan untuk tidur, menyebabkan kebodohan dan menurunnya kemampuan berpikir, lemahnya semangat, serta malasnya badan. Ini belum termasuk makruhnya banyak makan dari tinjauan syariat dan timbulnya penyakit jasmani yang membahayakan.”
Sebagaimana dikatakan dalam sebuah syair:
فَإِنَّ الدَّاءَ أَكْثَرَ مَا تَرَاهُ        يَكُونُ مِنَ الطَّعَامِ أَوِ الشَّرَابِ
Sesungguhnya penyakit, kebanyakan yang engkau lihat
terjadi karena makanan atau minuman
Seandainya tidak ada keburukan dari banyak makan dan minum kecuali menyebabkan sering ke toilet, hal itu sudah cukup bagi orang yang berakal dan cerdas untuk menjaga diri darinya. Barangsiapa yang menginginkan keberhasilan dalam menuntut ilmu dan mendapatkan bekal hidup dari ilmu, namun disertai dengan banyak makan dan minum serta tidur, sungguh dia telah mengusahakan sesuatu yang mustahil menurut kebiasaan.
(Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim fi Adabil ‘Alim wal Muta’allim, hal. 73-74, Al-Imam Badruddin Muhammad bin Ibrahim bin Sa’dillah bin Jamaah Al-Kinani t, dengan beberapa perubahan)

Minggu, 01 April 2012

Meluruskan Praktik Bai’at

Dalam anggapan sebagian besar masyarakat, bai’at identik dengan kelompok sesat. Anggapan ini memang “tidak sepenuhnya salah” mengingat sebagian besar kelompok sempalan dalam Islam menjadikan bai’at sebagai “tiket” masuk ke dalam komunitas mereka. Lebih dari itu, ada kelompok yang menjadikan bai’at sebagai sekat yang memisahkan antara keislaman dan kekafiran seseorang. Yang tidak berbai’at berarti dia kafir, yang keluar dianggap murtad, dan seterusnya. Bai’at model inilah yang dianut oleh kelompok Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) dan Negara Islam Indonesia (NII) atau yang lebih dikenal dengan sebutan N sebelas.
Bahkan dalam kelompok NII atau lebih tepatnya NII KW IX -karena memang banyak versi tentang NII-, setiap anggota yang telah berbai’at dipaksa membayar uang hijrah atau penyucian jiwa. Setiap anggota juga dibebani beragam pungutan lain –yang tentu saja berkedok agama- yang jumlahnya cukup besar. Tak heran, jika banyak anggota NII yang sampai melakukan tindak pencurian, penipuan, atau memeras orang lain –bahkan orangtuanya sendiri- dengan doktrin bahwa uang atau harta tersebut merupakan harta Allah l yang harus direbut dari orang kafir, serta dianggap sebagai harta rampasan perang.
Alhasil, bai’at pun terkesan di kalangan masyarakat awam sebagai jerat yang mematikan. Terlebih, tak sedikit dari kaum muslimin yang ketika menyadari kekeliruannya, berusaha keluar, kemudian masih mendapat berbagai bentuk intimidasi dari bekas kelompoknya.
Tak cuma menjerat, bai’at juga memiliki andil besar dalam menanamkan fanatisme golongan. Setiap anggota kelompok biasanya dengan sukarela melaksanakan titah amir kelompok, benar ataupun salah dilihat dari kacamata syariat. Seperti yang nampak pada “syariat” sebagian kelompok NII yang penuh keganjilan seperti: tidak wajibnya shalat lima waktu dengan alasan belum futuh (fase Madinah), tidak mewajibkan menutup aurat bagi anggota wanitanya dengan alasan Kahfi, membolehkan bagi calon anggota untuk melaksanakan shalat lima waktu dalam satu waktu, dsb.
Demikianlah  kala jeruji bai’at ini telah memagari syariat. Klaim-klaim bahwa kelompoknya yang paling benar dan paling Islami, tanpa menimbangnya dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman salaful ummah yang akhirnya membayang. Syariat lantas tak lagi terdengar gaungnya, kandas menggampar dilipat bai’at. Bukan lagi kebenaran yang mereka cari namun justru pembenaran.
Maka, kesan jelek yang melekat pada bai’at inilah yang mesti diluruskan. Karena sebenarnya bai’at juga merupakan bagian dari syariat Islam. Asalkan memang dilakukan secara benar dan ditujukan sebagaimana dituntunkan syariat. Terlebih bai’at justru menjadi perkara yang memang diwajibkan.
Bai’at, dalam Islam, hanyalah ditujukan kepada penguasa (pemerintah), entah itu disebut raja, presiden, sultan, atau yang lainnya. Jadi meski ada yang mengaku bahwa bai’at kelompoknya “sekadar” bentuk komitmen, tidak terkait dengan kafir-mengkafirkan kelompok lain, namun selama bai’at tidak ditujukan kepada penguasa yang sah yang mempunyai wilayah kekuasaan yang jelas, maka bai’at tersebut tetaplah merupakan penyimpangan di dalam Islam. Apalagi sampai mengada-adakan rukun-rukun bai’at, yang mana hal itu tidak pernah dicontohkan Rasulullah n, sebagaimana yang terjadi di bai’at kelompok Ikhwanul Muslimin.
Oleh karena itu, tak ada kata lain, mari kita retas belenggu bai’at yang menyimpang, kita luruskan praktik bai’at di tengah masyarakat kita!

Sabtu, 31 Maret 2012

Bercermin Dari Bai’at Rasulullah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin)

Telah menjadi tabiat, dalam dakwah ditaburi beragam aral merintang. Jalan yang ditempuh dipenuhi onak duri. Curam, tajam, mendaki, dan banyak ranah terjal yang mesti dilalui. Tantangan demi tantangan akan senantiasa menghadang. Sulit tiada terperi. Duka nan lara pun akan datang silih berganti. Susul-menyusul bagai gelombang ombak yang tiada pernah berhenti. Potret tabiat dakwah ini secara nyata bisa dicermati dari perjalanan dakwah para nabi dan rasul Allah l. Al-Qur’an telah banyak menggambarkan hal itu. Beragam tindak sarkasme seperti cemooh, menjuluki dengan sesuatu yang tiada patut, pelecehan, hardikan, dan kata-kata kasar lainnya kerap menghambur dari lisan orang-orang yang menyimpan hasad serta permusuhan terhadap dakwah dan pelaku dakwah. Tak hanya itu, boikot bahkan ancaman bunuh pun bisa mewarnai perjalanan dakwah. Cermati firman Allah l berikut:
“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu, membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (Al-Anfal: 30)
Hanya orang-orang yang dikaruniai kesabaran yang kelak bertahan tegar menghadapi ujian. Kokoh dalam kancah dakwah. Cobaan yang menimpanya dihadapi dengan sabar seraya menanti saat tibanya pertolongan Allah l. Al-Qur’an memberi gambaran betapa dahsyat ujian yang menimpa orang-orang terdahulu. Firman-Nya:
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Al-Baqarah: 214)
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (Al-’Ankabut: 2-3)
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar?” (Ali Imran: 142)
Para sahabat g pernah berkeluh kesah kepada Rasulullah n terkait ujian yang menimpa saat memperjuangkan Islam. Hadits dari Khabbab bin Al-Art z bertutur tentang hal itu. Khabbab z berkata:
Kami berkeluh kesah kepada Nabi n saat beliau tengah berbantal kain burdah dalam naungan Ka’bah. Kami berkata: “Tidakkah engkau memohonkan pertolongan bagi kami? Tidakkah engkau mendoakan kami?” Maka beliau n bersabda: “Sungguh telah terjadi pada orang-orang sebelum kalian, seorang lelaki diambil lantas ditanam dalam tanah. Dalam keadaan seperti itu, kemudian didatangkan gergaji yang diletakkan di atas kepalanya. Maka (akibat digergaji) jadilah kepalanya terbelah dua. Lantas tubuhnya disisir dengan sisir yang terbuat dari besi hingga mengelupas daging dari tulangnya. Namun demikian, tidaklah hal itu menjadikan dia terhalang dari agamanya (dia tetap kokoh dalam agamanya). Sungguh Allah  akan menyempurnakan agama ini hingga orang yang berkendaraan tidak merasa takut, kecuali hanya kepada Allah, saat melintas dari Shan’a ke Hadramaut. Begitu pula tanpa takut serigala akan memakan kambingnya. Akan tetapi kalian bersikap tergesa-gesa.” (HR. Al-Bukhari no. 6943)
Dalam menjelaskan hadits tersebut, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t mengungkapkan, (hadits) ini merupakan isyarat perihal wajibnya bersabar kala menghadapi cobaan dalam menunaikan agama. (Syarhu Shahih Al-Bukhari, 9/356)
Sesungguhnya sikap sabar kepada Dzat Allah k dalam menghadapi cobaan merupakan salah satu sebab (seseorang) masuk surga. Karena sesungguhnya makna ayat (dari surat Al-Baqarah: 214) yaitu bersabarlah kalian hingga kalian masuk surga. (Tafsir Al-Qur’an Al-Karim, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, 3/42)
Dalam kehidupan dakwah, Rasulullah n pun banyak mengalami gangguan dan tantangan. Tengoklah bagaimana ujian beliau n saat bertandang ke Thaif. Berupaya menyampaikan Islam dengan penuh kasih sayang dan rahmah. Namun, apa yang beliau terima sebagai balasan? Tiada lain sikap sarkasme penduduk Thaif. Beliau menetap di Thaif selama sepuluh hari. Tak tertinggal satu orang pun dari tokoh-tokoh mereka untuk didatangi dan diajak kepada Islam. Akan tetapi, mereka tak mau menerima dakwah beliau, bahkan mengusir dan memprovokasi orang-orang jelata yang bodoh untuk melempari batu serta mencaci-maki beliau n. Darah pun mengalir dari tubuh beliau n yang mulia. Hingga kedua sandal beliau n terwarnai darah yang keluar dari tubuh. Begitu pun yang dialami Zaid bin Haritsah z yang turut mendampingi beliau berdakwah ke Thaif. Sahabat mulia satu ini melindungi Rasulullah n dengan tubuhnya. Maka kepalanya pun terluka. Caci-maki dan lemparan batu terus ditimpukkan ke arah Rasulullah n dan Zaid bin Haritsah z oleh orang-orang bodoh Thaif, hingga beliau sampai di pinggiran kebun anggur milik ‘Utbah dan Syaibah, yang merupakan putra Rabi’ah.
Apa yang menimpa Rasulullah n tak cuma itu. Persekongkolan kaum musyrikin untuk membinasakan Rasulullah n senantiasa diupayakan sekeras-kerasnya. Bahkan mereka melakukan satu tindakan untuk membunuh Nabi n. Demikianlah ujian dalam dakwah. Ujian yang selalu menyertai hamba-hamba-Nya yang merindukan surga dengan segala kenikmatan di dalamnya. Dari Abu Hurairah z, sungguh Rasulullah n bersabda:
حُجِبَتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ وَحُجِبَتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ
“Neraka itu dihijab (dipagari/dikelilingi) dengan syahwat, sedangkan surga dihijab dengan hal-hal yang tidak menyenangkan (dibenci).” (HR. Al-Bukhari no. 6487)
Yang dimaksud bil makarih (yang tidak menyenangkan) dalam hadits di atas adalah segala sesuatu yang diperintahkan terhadap orang-orang yang telah terkena kewajiban menunaikan syariat agar dirinya bersungguh-sungguh dalam mengerjakan (kebaikan) dan meninggalkan (hal yang dilarang). Seperti, bersegera menunaikan berbagai peribadatan dan menjaganya, serta menjauhi segala macam larangan baik dalam bentuk ucapan atau perbuatan. Dikatakan al-makarih (tidak disenangi) lantaran tingkat kesulitan dalam menggapai surga, sehingga memerlukan kesabaran terhadap berbagai musibah yang menimpa dan sikap pasrah diri (patuh) dalam menunaikan perintah Allah l. Sedangkan yang dimaksud kata bisy-syahawat yaitu segala sesuatu yang bisa mengundang kenikmatan pada perkara-perkara dunia padahal itu dilarang oleh syariat. Terkait syahwat ini juga, yaitu segala sesuatu yang dikhawatirkan mengantarkan seseorang terjatuh pada yang haram. (Fathul Bari, 11/360)
Adapun menurut Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t, yang dimaksud kata hujibat pada hadits tersebut yaitu memagari (mengelilingi). Neraka adalah tempat syahwat, yang orang-orang tak akan merasa tenang kecuali dengan mengikuti syahwat mereka, seperti syahwat zina, homoseksual, minum khamr, mencuri, sombong, dan segala bentuk kerusakan tersebut adalah syahwat. Yang semua ini melingkupi neraka. Karena hal-hal ini pula banyak manusia yang bermewah-mewah terjatuh ke dalam neraka. Firman Allah l:
“Dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu? Dalam (siksaan) angin yang amat panas dan air yang panas yang mendidih, dan dalam naungan asap yang hitam. Tidak sejuk dan tidak menyenangkan. Sesungguhnya mereka sebelum itu hidup bermewah-mewah.” (Al-Waqi’ah: 41-45)
“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah l) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu. Maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Al-Isra’: 16)
Adapun surga dikelilingi dengan hal-hal yang tidak disenangi, karena sesungguhnya beramal kebaikan itu adalah sesuatu yang tidak disukai oleh jiwa yang dikendalikan kejelekan. Maka terjadilah pada kalangan manusia, tatkala beramal kebaikan jiwanya tidak menyukai atau benci mengerjakan kebaikan tersebut. Padahal beramal kebaikan itu akan mengantarkan dirinya ke surga. (Syarhu Shahih Al-Bukhari, 8/382)
Maka, sudah menjadi kemestian bahwa sikap sabar dalam menyebarkan nilai-nilai kebajikan harus tertancap kukuh di dada setiap pejuang dakwah.
Pada musim haji tahun ke-11 dari kenabian, Rasulullah n bertemu dengan penduduk Yatsrib (Madinah). Mereka menyatakan memeluk Islam dan berjanji untuk menyampaikan risalah Islam kepada kaumnya. Kemudian pada musim haji berikutnya, yaitu tahun ke-12 dari kenabian, 12 orang penduduk Madinah bertemu Rasulullah n. Mereka terdiri dari lima orang yang pernah bertemu Rasulullah n pada musim haji sebelumnya, selain Jabir bin Abdillah bin Ri’ab yang pada tahun itu tidak bisa hadir. Adapun tujuh orang lagi yaitu Mu’adz bin Al-Harits (Ibnu ‘Afra dari Bani Najjar, Khazraj), Dzakwan bin Abdil Qais (Bani Zuraiq, Khazraj), Ubadah bin Ash-Shamit (Bani Ghanmin, Khazraj), Yazid bin Tsa’labah (Khazraj), Al-’Abbas bin Ubadah bin Nadhlah (Bani Salim, Khazraj), Abul Haitsam bin At-Tayyahan (Bani Abdil Asyhal, Aus), dan ‘Uwaim bin Sa’adah (Bani ‘Amr bin ‘Auf, Aus). Hanya dua orang dari suku Aus sedangkan sisanya dari kalangan suku Khazraj. Mereka semua datang menemui Rasulullah n di satu tempat bernama ‘Aqabah, yang masih termasuk wilayah Mina. Mereka diajak untuk berbai’at kepada Rasulullah n.
“Kemarilah, berbai’atlah kepadaku,” kata Nabi n. Mereka pun lantas berbai’at bahwasanya tidak akan menyekutukan Allah l dengan sesuatu pun, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anak, tidak akan mendatangkan (kesaksian) dusta yang diada-adakan antara tangan-tangan dan kaki-kaki mereka (seperti menuduh zina), tidak akan bermaksiat kepada Rasulullah n dalam hal yang baik. Barangsiapa yang memenuhi bai’at tersebut maka balasannya atas tanggungan Allah l. Barangsiapa melanggar bai’at tersebut maka sanksinya bakal diperoleh di dunia, dan itu berarti kaffarah (penghapus) bagi dosanya. Tapi bila yang melanggar lantas Allah l menutupinya, maka terserah kepada Allah  l kelak di akhirat. Jika Allah l menghendaki disiksa, maka dia akan disiksa. Jika Allah  l menghendaki dengan ampunan-Nya, maka dia akan mendapatkan maaf (ampunan). Demikian peristiwa bai’at pertama dalam lintasan sejarah Islam. Bai’at yang syar’i. Dalam catatan sejarah, bai’at ini dikenal dengan Bai’at Aqabah Pertama.
Setahun kemudian, yakni pada musim haji pula, 73 orang Madinah yang telah muslim datang ke Makkah sebagai orang-orang yang hendak berhaji, ditambah dua orang wanita, yaitu Nusaibah bintu Ka’b dan Asma’ bintu ‘Amr. Mereka pun bertemu Rasulullah n lantas berbai’at kepada beliau n.
“Wahai Rasulullah, kami berbai’at kepadamu,” kata mereka. “Untuk apa saja kami berbai’at kepadamu?” lanjut mereka. Maka Rasulullah n menyebut rincian bai’at. Yaitu untuk: “Mendengar dan taat baik dalam keadaan bersemangat ataupun malas, berinfak kala sulit ataupun mudah, menunaikan amar ma’ruf nahi munkar, beristiqamah karena Allah l, dan tak akan mudah terpengaruh meski orang-orang mencela, menolongku (Nabi n) apabila aku datang kepada kalian, serta akan melindungiku seperti mereka melindungi istri dan anak kalian. Maka, (jika semua itu ditunaikan) bagi kalian surga.” Inilah bai’at Aqabah yang kedua, atau dikenal pula sebagai bai’at Aqabah Al-Kubra. (Ar-Rahiqul Makhtum, hal. 165-172)
Pada masa Rasulullah n, dikenal pula Bai’at Ar-Ridhwan. Sebuah bai’at nan agung. Kisah ini berawal dari keinginan Rasulullah n untuk melangsungkan umrah. Pada tahun Hudaibiyah tersebut, Rasulullah n hendak berkunjung ke Baitullah dan bukan bertujuan untuk berperang. Namun apa yang dicita-citakan ternyata mengalami hambatan. Ketika Rasulullah n tiba di Dzul Hulaifah, beliau dan rombongan yang berjumlah 1.400 orang menambatkan hewan-hewan yang dibawanya, lantas berihram untuk umrah. Beliau terus berjalan hingga tiba di daerah Usfan. Saat itulah, ada yang memberitahu bahwa orang-orang Quraisy yang musyrik telah melakukan mobilisasi massa dan bersiap untuk bertempur. Pasukan kaum musyrikin Quraisy itu sendiri saat itu telah berada di daerah Dzu Thuwa. Mereka benar-benar menghalangi Rasulullah n dan para sahabatnya untuk masuk ke Baitul Haram. Maka, terjadilah negosiasi antara kedua belah pihak. Pada awalnya Rasulullah n hendak mengutus Umar bin Al-Khaththab z ke pihak kaum musyrikin. Namun atas pertimbangan bahwa di Makkah tidak ada orang dari Bani ‘Adi bin Ka’b yang bisa memberi perlindungan kepada Umar, maka rencana mengutus Umar dibatalkan. Umar pun lantas mengusulkan agar yang diutus ke Makkah adalah Utsman bin Affan z. Maka berangkatlah Utsman bin Affan z ke Makkah, beliau menemui Aban bin Sa’id bin Al-’Ash. Melalui Aban bin Sa’id bin Al-Ash ini, Utsman bin Affan z mendapatkan kekebalan diplomatik. Di Makkah, Utsman z berhasil menemui Abu Sufyan dan para pembesar Quraisy lainnya lalu menyampaikan apa yang menjadi misinya. Pihak Quraisy lantas menahan Utsman z lantaran mereka ingin bermusyawarah. Namun penahanan Utsman bin Affan z ini menimbulkan berita simpang siur. Berita yang tersebar menyatakan bahwa Utsman bin Affan z telah dibunuh oleh orang-orang Quraisy. Atas tersiarnya berita ini, Rasulullah n memanggil para sahabat untuk berbai’at. Mereka pun berbai’at kepada Rasulullah n untuk tidak melarikan diri dan berjuang hingga tetes darah penghabisan, yaitu hingga mati. Rasulullah n mengambil bai’at ini di bawah pohon. Bai’at inilah yang dikenal kemudian sebagai Bai’at Ar-Ridhwan. Berkenaan dengan bai’at ini, Allah l menurunkan ayat-Nya:
“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon.” (Al-Fath: 18)
“Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.” (Al-Fath: 10)
Dampak dari adanya Bai’at Ar-Ridhwan ini, kaum musyrikin menjadi gentar. Sehingga melahirkan perjanjian Hudaibiyah. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/224-229, dan Ar-Rahiqul Makhtum hal. 351-352)
Sepeninggal Rasulullah n, para sahabat g berbai’at kepada para khalifah Rasulullah n; Abu Bakr, Umar bin Al-Khaththab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib g.
Namun setelah berlalu generasi utama, datanglah generasi yang mengada-ada dalam masalah bai’at ini. Muncul di kalangan Sufi apa yang disebut dengan bai’at thariqah (tarekat). Muncul pula kemudian bai’at-bai’at di kalangan jamaah Islamiyah. Masing-masing kelompok atau jamaah memberlakukan bahkan mewajibkan melakukan bai’at kepada imam atau amir kelompok atau jamaahnya. Hadits-hadits terkait masalah keamiran atau keimamahan pun dipelintir habis guna kepentingan sang amir/imam atau guna kepentingan kelompok/jamaahnya. Misal, hadits dari Abu Hurairah z dalam Shahih Muslim (no. 1484):
مَنْ خَرَجَ مِنَ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً
“Barangsiapa yang keluar dari ketaatan dan berpisah (menyempal) dari jamaah, maka dia mati dalam keadaan mati jahiliah.”
Hadits lain, misal hadits dari Ibnu Umar c:
مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا حُجَّةَ لَهُ وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً
“Barangsiapa melepaskan tangan dari ketaatan, dia akan berjumpa dengan Allah pada hari kiamat dalam keadaan tidak memiliki hujjah padanya. Barangsiapa mati dan di lehernya tidak terikat bai’at, dia mati dalam keadaan jahiliah.” (HR. Muslim no. 1851)
Merebaklah bai’at-bai’at hizbiyyah (kekelompokan). Masing-masing jamaah mengangkat imam atau amir, lalu mereka pun memberlakukan bai’at pada kelompoknya. Muncullah kebingungan pada sebagian pemuda muslim saat melihat begitu banyak jamaah. Mereka bingung hendak ke mana mereka bergabung. Sungguh, tidak diragukan lagi bahwa dampak buruk dari adanya bai’at-bai’at hizbiyah, atau namanya dikemas dengan nama selain bai’at, seperti ‘ahd (perjanjian) atau ‘aqd (ikatan), justru menimbulkan perpecahan pada tubuh umat Islam, mencerai-beraikan umat menjadi bergolong-golongan, menimbulkan permusuhan dan kebencian satu dengan lainnya.
Terhadap bai’at-bai’at hizbiyah atau bai’at-bai’at thariqah, maka tidak wajib menaati. Bahkan hal yang demikian wajib ditinggalkan. Ini semua lantaran bentuk-bentuk bai’at semacam itu tidak diperintahkan oleh Rasulullah n dan tidak diperbuat oleh generasi terbaik umat ini, yaitu para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Bai’at-bai’at semacam itu justru menjadikan pelakunya terjatuh pada dosa karena dia telah melakukan perbuatan bid’ah, mengada-ada satu bentuk amalan tanpa ada contoh atau perintah dari Rasulullah n.
Adapun terkait perintah untuk berbai’at sebagaimana dinyatakan dalam hadits-hadits shahih, maka maksud berbai’at tersebut adalah kepada waliyyul amr atau imamatul uzhma (penguasa tertinggi). Bukan amir atau imam kelompok atau jamaah. Sebagaimana dinyatakan oleh Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi t, saat menjelaskan kesesatan model bai’at yang diterapkan pada kelompok Ikhwanul Muslimin, bahwa sesungguhnya bai’at itu merupakan hak bagi imamatul a’la (penguasa tertinggi). Barangsiapa yang mengambil bai’at selain imamatul a’la, sungguh dia telah melakukan bid’ah (mengada-ada) dalam urusan agama. Dia melakukan bid’ah yang jelek.
إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَتَيْنِ فَاقْتُلُوا الْآخَرَ مِنْهُمَا
“Jika dibai’at dua khalifah, maka bunuhlah oleh kalian yang lain (yang terakhir dibai’at) dari keduanya (yang mengeksekusi adalah pemerintah yang sah, red.).” (HR. Muslim no. 1853, dari Abu Sa’id Al-Khudri z) [Al-Mauridu Al-’Adzbu Az-Zalal, hal. 214]
Lantaran bai’at-bai’at thariqah atau bai’at-bai’at hizbiyah tidak ada asalnya dalam syariat, maka ikatan janjinya tidak mengikat, tidaklah berdosa untuk menggugurkan dan melepaskan bai’at semacam itu.
Wallahu a’lam.

Pengikut