Senin, 05 Desember 2011

Tashfiyah dan Tarbiyah Jalan Menuju Kejayaan Umat

Bagaimana Dengan Zaman Ini?
Orang yang memperhatikan perjalanan para ulama ahlus sunnah di masa yang lalu dan sekarang akan mendapati bahwa para ulama ahlus sunnah menempuh jalan yang satu dalam berdakwah, di atas ilmu dan bashirah (hujjah/argumentasi yang nyata), seperti dijelaskan Allah,
قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُوا إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَآ أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah Subhanahu wa Ta’aladengan hujjah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)
Dakwah mereka mencakup ilmu, belajar (ta’allum) dan mengajar (ta’liim). Metode ini dibangun diatas tiga dasar: mengetahui kebenaran, berdakwah kepadanya, dan teguh di atasnya. Metode ini harus ditempuh dengan tashfiyah dan tarbiyah.
Tashfiyah (pemurnian) adalah memurnikan Islam pada semua bidangnya dari semua perkara yang asing dan jauh darinya.
Tarbiyah (pembinaan) adalah membina generasi-generasi Islam di zaman ini, yang sedang tumbuh dengan Islam yang telah dimurnikan. (At-Tashfiyah wat Tarbiyah, hlm.19, karya Syekh Ali bin Hasan al-Halabi)
Mengapa Harus Tashfiyah
Bila kita perhatikan realita umat ini dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah disampaikan di atas, kita mendapati bahwa ajaran Islam telah terkotori kebid’ahan dan perkara-perkara yang justru menyelisihi hakikat ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah dipahami generasi pertama umat ini. Atas dasar itulah, sangat perlu dilakukan pembaruan dan pemurnian ajaran tersebut dari yang mengotorinya.
Syekh Muhammad al-Basyir al-Ibrahimi menjelaskan, “Setelah kita berpikir, meneliti, dan mengkaji keadaan umat dengan tempat tumbuh penyakit-penyakitnya, maka kita benar-benar mengetahui bahwa jalan-jalan bid’ah dalam Islam adalah sebab terpecahbelahnya kaum muslimin, dan kita mengetahui bahwa ketika kita melawannya berarti kita melawan seluruh keburukan.” (Al-Ashalah: 1/34)
Jelaslah, sebab munculnya perpecahan kaum muslimin adalah jauhnya mereka dari ajaran Islam yang benar. Ajaran yang telah menyatukan para sahabat yang sebelumnya mereka bercerai-berai dan saling memusuhi. Kemudian setelah bercampurnya ajaran tersebut dengan kebid’ahan pada kaum muslimin, terjadilah perpecahan dan permusuhan di antara mereka hingga akhirnya mereka menjadi rendah dan hina seperti sekarang ini.
Sesungguhnya tersebarnya kesesatan akidah, bid’ah-bid’ah ibadah, dan perselisihan dalam agama menjadikan kaum muslimin lepas dari agamanya dan jauh dari dua pondasi utamanya. Itulah yang menjauhkan kaum muslimin dari keistimewaan-keistimewaan agama dan akhlaknya, sehingga sampai kepada kondisi yang kita lihat sekarang.
Oleh karena itu, kaum muslimin tidak mungkin selamat dari bid’ah, kesesatan, atau penyimpangan-penyimpangan kecuali dengan tashfiyah terhadap agama dan hal-hal yang terkait dengannya, dari seluruh noda dan perkara asing yang masuk padanya.
Bidang-Bidang yang Di-tashfiyah
Begitu banyak bidang yang perlu di-tashfiyah karena betapa banyak hal baru, kebiasaan dan penyelewengan yang masuk, baik dalam perkara ushuluddin (perkara pokok dalam agama) maupun furu’ (cabang)nya.
Syekh Ali bin Hasan al-Halabi hafidzuhullah menyebutkan contoh bidang-bidang yang perlu ditashfiyah, yaitu: (1) Akidah, (2) Hukum, (3) Sunnah, (4) Fikih, (5) Tafsir, (6) Tazkiyah, (7) Pemikiran, (8) Tarikh, (9) Dakwah, dan (10) Bahasa Arab.
Yang Melakukan Tashfiyah
Tentulah tashfiyah tersebut dilakukan oleh para ulama yang telah mapan ilmunya. Adapun masyarakat Islam, mereka mengikuti penjelasan ulama. Sesungguhnya, ulama rabbaniyin akan tetap ada sampai akhir zaman yang dikehendaki oleh Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ : يَنْفُوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الْغَالِيْنَ وَتَأْوِيْلَ الْجَاهِلِيْنَ وَ إِنْتِحِالَ الْمُبْطِلِيْنَ
“Ilmu agama ini akan dibawa oleh orang-orang yang terpercaya pada setiap generasi: mereka akan menolak tahrif (perubahan) yang dilakukan oleh orang-orang yang melewati batas, ta’wil (penyimpangan arti) yang dilakukan oleh orang-orang yang bodoh, dan kedustaan yang dilakukan oleh orang-orang yang berbuat kepalsuan.” (Riwayat Ibnu ‘Adi, Al-Baihaqi, Ibnu ‘Asakir, Ibnu Hibban, dll,; dinyatakan berderajat hasan oleh Syekh Salim bin ‘Ied al-Hilali dalam Hilyatul ‘Alim Al-Mu’allim, hlm.77, juga oleh Syekh Ali bin Hasan di dalam At-Tashfiyah wat Tarbiyah)
Para ulama menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “orang-orang yang terpercaya” dalam hadits ini adalah para ulama ahli hadits di setiap zaman.
Mengiringi Tashfiyah dengan Tarbiyah
Nah, jalan menuju kejayaan harus dimulai dengan mengembalikan ajaran Islam ini seperti perkara pertamanya dengan melakukan tashfiyah, hingga kembali sebagaimana yang dijalani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, baik dalam akidah, ibadah, suluk (jalan hidup) dan seluruh perkara yang berkaitan dengan syariat. Namun, tidak hanya berhenti sampai di sini. Hal tersebut harus dilanjutkan dengan tarbiyah (pembinaan) umat di atas dasar ilmu yang sudah shahih dan sudah di-tashfiyah (dimurnikan).
Syekh al-Albani rahimahullah menyatakan, “Apabila kita ingin kejayaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kerendahan diangkat dari kita, serta kita dimenangkan dari musuh-musuh kita, maka untuk mencapai itu semua, seluruh hal yang telah saya isyaratkan–dari kewajiban meluruskan pemahaman dan menghilangkan pemikiran-pemikiran yang menyelisihi dalil-dalil syar’i–tidaklah cukup …. Disana ada hal lain yang sangat penting sekali-–inilah inti yang sebenarnya–dalam meluruskan pemahaman, yaitu beramal; karena ilmu adalah sarana untuk beramal. Apabila seseorang telah belajar dan ilmunya sudah ter-tashfiyah, kemudian dia tidak mengamalkan ilmu tersebut, maka sangat otomatis terjadi ilmu tersebut tidak menghasilkan buah. Oleh karena itu, ilmu harus disertai dengan amalan. Sudah menjadi kewajiban para ulama untuk mengurus pembinaan kaum muslimin yang baru di atas dasar ketetapan yang ada dalam Alquran dan Assunah. Jangan membiarkan manusia berada di atas pemikiran dan kesalahan yang mereka warisi. Sebagiannya pasti batil menurut kesepakatan para ulama, sebagiannya masih diperselisihkan dan memiliki kekuatan dalam penelitian dan ijtihad serta ra’yu (pendapat pribadi), dan sebagian ijtihad dan ra’yu ini menyelisihi sunnah. Setelah dilakukan tashfiyah terhadap perkara-perkara ini dan menjelaskan semua kewajiban memulai dan berjalan padanya, maka harus ada tarbiyah (pembinaan) terhadap orang-orang baru di atas ilmu yang shahih ini. Pembinaan inilah yang akan membentuk masyarakat Islam yang bersih untuk kita dan kemudian akan tegak daulah Islam untuk kita. Tanpa dua hal ini, yaitu ilmu yang shahih dan pembinaan yang benar di atas ilmu yang shahih ini, mustahil-–menurut keyakinan saya–tiang-tiang Islam akan tegak atau hukum Islam atau negara Islam.” (At-Tashfiyah wat Tarbiyah wa Haajat an-Naas Ilaihaa, hlm.29-31)
Hal ini dijabarkan oleh Syekh Abdurrahman bin Yahya al-Mu’allimi dalam pernyataan beliau, “Orang-orang yang mengenal Islam dan ikhlas terhadapnya telah banyak melaporkan bahwa kelemahan dan kemunduran yang menimpa umat Islam hanyalah disebabkan jauhnya mereka dari hakikat Islam.  Aku melihat bahwa hal itu kembali kepada tiga perkara:
-       Pertama: Bercampurnya sesuatu yang bukan berasal dari agama (Islam) dengan sesuatu yang berasal dari agama (Islam).
-       Kedua: Lemahnya keyakinan terhadap sesuatu yang termasuk bagian dari agama (Islam).
-       Ketiga: Tidak mengamalkan hukum-hukum agama (Islam).
Berdasarkan ini, maka mengetahui adab-adab yang benar yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam ibadah dan mu’amalah, tinggal dan bersafar, bergaul dengan orang lain dan sendirian, gerakan dan diam, bangun dan tidur, makan dan minum, berbicara dan diam, dan selain itu yang ada pada kehidupan manusia, dengan berusaha mengamalkannya sesuai dengan kesanggupan, itu adalah obat satu-satunya untuk penyakit-penyakit itu. Sesungguhnya banyak dari adab-adab itu mudah pada jiwa, maka jika seseorang mengamalkan sesuatu yang mudah baginya, dengan meninggalkan hal yang menyelisihinya, insyaAllah Subhanahu wa Ta’ala tidak lama (kemudian) dia ingin menambah. Sehingga mudah-mudahan tidaklah lewat satu masa tertentu kecuali dia telah menjadi teladan bagi orang lain di dalam hal itu.
Dengan mengikuti petunjuk Nabi yang lurus itu, dan berakhlak dengan akhlak yang agung itu, walaupun sampai batas tertentu, hati akan bersinar, dada akan longgar, jiwa akan tenang, sehingga keyakinan menjadi mendalam, dan amalan menjadi baik. Jika banyak orang yang meniti jalan ini, tidak lama penyakit-penyakit itu akan hilang, insyaallah“. (Mukaddimah pada kitab Fadhlullahis Shamaad 1/17; dinukil dari At-Tashfiyah wat Tarbiyah, hlm: 19-20, karya Syekh Ali bin Hasan al-Halabi)
Demikian kemudahan yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada penulis, mudah-mudahan bermanfaat.
Alhamdulillaahi Rabbil ‘Aalamiiin
Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, L.c.

Sabtu, 03 Desember 2011

Islam Paling Mengerti Wanita



Wanita Sebelum Datangnya Islam
Pada zaman sebelum datangnya Islam, kaum wanita sangat tertindas. Hal ini tidak hanya terjadi di Jazirah Arab, banyak negeri memberlakukan peraturan yang merendahkan harkat wanita.
Aristoteles, ahli filsafat terkemuka dunia memiliki pendapat yang agak ‘nyeleneh’ mengenai wanita. Dia menyatakan bahwa wanita adalah “laki-laki yang belum lengkap”. Wanita digambarkan sebagai bagian yang lebih rendah daripada laki-laki. Sehingga, muncullah kesenjangan antara laki-laki dan wanita.
Di Yunani kuno, wanita layaknya barang yang bisa diperjualbelikan dengan mudah. Wanita di sana tidak memiliki hak untuk mewarisi. Perempuan direndahkan di masyarakat itu. Sampai-sampai, mereka menganggap perempuan sebagai najis. Wanita di sana diperbudak dan diperjualbelikan tanpa memiliki kehendak sendiri. Bahkan, dalam urusan pernikahan, mereka tidak memiliki hak pilih. Tidak hanya itu, wanita dibunuh dan dianiaya merupakan hal yang biasa di sana.
India memiliki pandangan lain tentang wanita. Mereka tidak memberikan hak hidup kepada wanita setelah kematian suaminya. Seorang wanita akan dibakar hidup-hidup apabila suaminya meninggal dunia. Istri yang dibakar hidup-hidup bersama suaminya yang sudah meninggal dianggap sebagai perempuan yang setia.
Wanita di negeri Arab sebelum datangnya Islam pun tak kalah memilukan. Wanita pada waktu itu tidak mendapatkan warisan sedikit pun. Bahkan, mereka justru dianggap sebagai barang warisan yang akan diwarisi oleh anak tertua dari suaminya. Lebih ngerinya lagi, orang-orang Arab Jahiliah menganggap bahwa memiliki anak perempuan adalah aib yang besar sehingga sebagian mereka pun menutupinya dengan mengubur hidup-hidup anak mereka jika ternyata istrinya melahirkan anak perempuan. Allah ta’ala berfirman mengenai hal ini:
ﭱ  ﭲ ﭳ  ﭴ  ﭵ  ﭶ  ﭷ  ﭸ  ﭹ   ﭺ  ﭻ  ﭼ  ﭽ      ﭾ  ﭿ  ﮀ  ﮁ   ﮂﮃ  ﮄ   ﮅ  ﮆ   ﮇ  ﮈ  ﮉ  ﮊﮋ
“Dan jika mereka diberi kabar gembira dengan anak perempuan, wajahnya menghitam dan menahan marah. Dia menutup diri dari kaumnya karena jeleknya apa yang dikabarkan kepadanya. (Dia ragu) apakah membiarkannya hidup tetapi dia dalam kehinaan ataukah dia masukkan ke dalam tanah (mengubur hidup-hidup).” [Q.S. An-Nahl:58-59].
Nah, inilah sedikit gambaran keadaan wanita di beberapa tempat di belahan bumi. Mereka direndahkan, dianiaya, dizalimi, dan didiskriminasi.

Saat Islam Datang
Islam pun datang membawa cahaya kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Islam membawa persamaan derajat antara laki-laki dan perempuan secara proporsional. Di antara bentuk-bentuk kesetaraan antara laki-laki dan perempuan di dalam Islam itu adalah:
  1. Kesamaan dalam derajat asal antara laki-laki dan perempuan
Allah ta’ala berfirman mengenai derajat manusia secara umum:
“Wahai manusia, Kami ciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, serta Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian.” [Q.S. Al-Hujurat:13].
Allah menjadikan ukuran kemuliaan manusia bukanlah diukur dari jenis kelamin, laki-laki atau perempuan. Tapi, Allah menjadikan ukuran kemuliaan adalah dari ketakwaan yang ada di dalam hati kita dan tercermin dalam amalan kita.
  1. Kesamaan dalam hak hidup
Islam memberikan wanita hak untuk hidup. Tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk mengubur anak-anaknya baik laki-laki ataupun perempuan. Allah berfirman dalam rangka mengingkari perbuatan penguburan wanita hidup-hidup yang artinya, “Dan ketika wanita yang dikubur hidup-hidup bertanya.(*) Dengan sebab apa dia dibunuh.” [Q.S. At-Takwir:8-9].
  1. Kesamaan hak milik dan membelanjakan hartanya
Agama Islam mengakui hak milik bagi wanita dan bolehnya mereka bertransaksi. Allah menegaskan wanita berhak menerima warisan. Hal ini menunjukkan bahwa mereka memilik hak milik yang diakui. Allah berfirman yang artinya, “Allah mewasiatkan kalian dalam hal anak-anak kalian. Laki-laki mendapatkan seperti dua bagian perempuan.” [Q.S. An-Nisa`:11]. Wanita dalam Islam memiliki hak untuk berjual beli, bersedekah, memberi, dan lainnya. Mereka memiliki hak kepemilikan secara utuh.
  1. Kesamaan dalam mendapatkan ilmu
Imam Al-Bukhari v meriwayatkan dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri z, bahwasanya para sahabat wanita mengeluhkan kepada Nabi ` mereka tidak mendapatkan bagian yang cukup untuk mempelajari agama, maka Rasulullah ` pun menjadwalkan waktu khusus untuk mengajari mereka.
  1. Wanita memiliki hak untuk memutuskan tali perkawinan
Dalam agama Islam, wanita memiliki hak memutuskan tali perkawinan yang disebut dengan khulu’. Imam Al-Bukhari v meriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas c bahwasanya istri Tsabit bin Qais mengeluh kepada Rasulullah `, “Wahai Rasulullah, aku tidak mencela Tsabit pada agama atau akhlaknya, tapi aku tidak kuat bersamanya.” Rasulullah ` pun menjawab, “Apakah engkau mau mengembalikan kebunnya (yang dahulunya sebagai mahar)?” Dia pun mengatakan, “Ya.”
Kejadian ini adalah awal dari disyariatkannya khulu’ di dalam Islam.
  1. Wanita berhak untuk menentukan dengan siapa dia menikah
Rasulullah ` bersabda:
لاَ تُنْكَحُ الْبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ ، وَلاَ الثَّيِّبُ حَتَّى تُسْتَأْمَرَ
“Tidak boleh dinikahi seorang gadis hingga dimintai izin, dan seorang janda hingga dimintai pendapat.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana izinnya seorang gadis?” Beliau ` pun menjawab, “Izinnya adalah diam (karena biasanya gadis malu untuk menjawab secara tegas).” [H.R. Al-Bukhari dan Muslim].
  1. Kesamaan dalam pahala beramal
Imam At-Tirmidzi v meriwayatkan bahwasanya Ummu ‘Amirah Al-Anshariyah x mengatakan kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, kenapa para laki-laki yang disebutkan di dalam Al-Quran, sedangkan para perempuan tidak disebutkan?” Allah pun menurunkan ayat-Nya (yang artinya), “Sesungguhnya muslimin laki-laki dan perempuan, mukminin laki-laki dan perempuan, orang yang senantiasa taat dari kalangan laki-laki dan perempuan, orang yang jujur dari kalangan laki-laki dan perempuan, orang yang sabar dari kalangan laki-laki dan perempuan, orang yang khusyu’ dari kalangan laki-laki dan perempuan, orang yang bersedekah dari kalangan laki-laki dan perempuan, orang yang puasa laki-laki dan perempuan, orang yang menjaga kemaluannya dari kalangan laki-laki dan perempuan, dan orang yang banyak berdzikir kepada Allah dari kalangan laki-laki dan perempuan Allah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” [Q.S. Al-Ahzab:35]. [H.R. At-Tirmidzi, sanadnya dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani v].

Emansipasi, Apakah Solusi?
Kini, muncullah sebuah konsep baru dalam membebaskan kaum wanita. Konsep yang dicetuskan oleh kaum barat ini dinamakan dengan emansipasi wanita. Sayangnya, pergerakan ini cenderung kebablasan sehingga justru malah mengabaikan kodrat wanita sebagai wanita itu sendiri. Ironisnya, bombardir berita di media masa ikut serta dalam melariskan kerancuan yang diusung oleh pegiatnya. Mereka memberi andil dalam mengesankan emansipasi sebagai jalan satu-satunya bagi wanita untuk merdeka.
Gerakan ini menuntut adanya kesamaan antara laki-laki dan perempuan dalam segala bidang. Faktanya, wanita memiliki fisik dan mental yang berbeda dengan lelaki yang akan sangat berpengaruh kepada kinerja masing-masing gender. Masing-masing memiliki bidang kerja tersendiri sesuai dengan kemampuannya.
Selain itu, cukuplah pelajaran bagi kita, negara yang memberi memberi hak emansipasi wanita justru memiliki angka kriminalitas lebih tinggi, baik kriminalitas secara umum ataupun kasus perendahan harkat wanita -seperti pemerkosaan, pelecehan seksual, dan lain-lain- secara khusus. Degradasi moral pun dijumpai hampir setiap penjuru negeri. Hal ini menunjukkan bahwa emansipasi dengan paham ini justru akan menjerumuskan wanita ke dalam jurang bahaya yang lebih besar.
Maka, dapatlah disimpulkan bahwasanya sistem yang paling cocok dalam membebaskan wanita adalah sistem agama Islam. Agama ini memberikan pembebasan yang bertanggung jawab, sesuai dengan kodrat, fisik, dan mentalnya. Nyatalah dengan ini, betapa bijaksananya syariat Dzat Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui maslahat hamba-Nya. Allahu a’lam bish shawab. (abdurrahman)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *
*


*Ketik kode di bawah ini
You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Di Balik Malam dan Siang

Di antara tanda-tanda kebesaran Allah adalah siang dan malam. Keduanya adalah sebagian dari keajaiban ayat-ayat-Nya dan keindahan ciptaan-Nya. Oleh sebab itulah Allah menyebutkan dalam Al Quran berulang-ulang. Agar manusia bisa mengmbil pelajaran darinya. Allah berfirman,
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam dan siang.” [Q.S. Fushshilat:37]. Dalam ayat yang lain Allah berfirman,
“Dialah yang menjadikan untuk kalian malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.” [Q.S. Al Furqan:47]. Allah berfirman pula,
“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” [Q.S. Al Anbiya’:33].
Ayat-ayat memacam ini banyak dalam Al Quran. Lihatlah ayat-ayat ini, renungkanlah kandungan pelajaran yang sekaligus menunjukkan rububiyah Allah (menunjukkan bahwa Allah lah semata pencipta, pengatur, penguasa, pemberi rezeki, dan makna-makna rububiyah yang lainnya) serta menunjukkan keagungan hikmah-Nya.
Bagaimana Allah menjadikan malam dalam keadaan tenang, menyelimuti alam, sehingga berbagai aktivitas makhluk berkurang, hewan-hewan bersembunyi di rumahnya, burung-burung kembali ke sarangnya. Jiwa pun menjadi tenang, beristirahat dari payah dan letihnya berkerja, sambil merencanakan untuk esok hari.
Kemudian Allah menggantikannya dengan siang hari, terang cahayanya menghilangkan gelapnya malam. Mulailah hewan-hewan keluar dari sarangnya untuk mencari penghidupan dan kemashlahatannya. Bukankah ini menunjukkan kemampuan Allah untuk membangkitkan manusia pada hari kiamat kelak? Namun, dengan seringnya jiwa ini menyaksikan hal tersebut sehingga menjadi kebiasaan, akhirnya menyebabkan kurang peka terhadap pelajaran ini. Pelajaran bahwa Allah Maha Mampu menghidupkan kembali manusia setelah kematiannya. Allah Maha Mampu atas segalanya, Maha Sempurna sifat-sifat-Nya, tidak ada kekurangan sedikit pun dalam hikmah-Nya. Akan tetapi Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki, dan menyesatkan siapa yang Allah kehendaki. Sehingga sebagian orang bisa mengambil pelajaran darinya dan sebagian tidak. Allahu a’lam. [farhan].

Disarikan dari Miftah Daris Sa’adah karya Imam Ibnul Qayyim v.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *
*


*Ketik kode di bawah ini
You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Islam Telah Sempurna

            Tubuh seorang manusia dikatakan sempurna jika telah tepat sesuai dengan kebutuhannya. Dengan sepasang tangan, sepasang kaki, kepala beserta seluruh anggota badan yang lengkap, manusia akan merasakan kenyamanan tubuh dan nikmatnya tubuh tersebut. Coba kita bayangkan, apabila kita terlahir dengan satu tangan, satu kaki, atau dengan mata yang buta, tentu hal tersebut akan menyedihkan dan mengganggu kehidupan kita. Kita merasakan kehidupan yang kurang normal. Demikian pula tatkala seseorang ditakdirkan memiliki tangan tambahan, kaki tambahan, atau anggota tubuh tambahan yang lain, tentu dikatakan kepadanya bahwa ia tidak normal. Jadi, kurang dari kebutuhan dikatakan kurang sempurna, sebagaimana  kelebihan juga dikatakan tidak sempurna.
Allah telah memberikan nikmat yang begitu banyak kepada hamba-Nya, terlebih kepada kita kaum muslimin pengikut Rasulullah. Termasuk nikmat yang Allah karuniakan khusus bagi kaum muslimin tetapi tidak diberikan kepada umat selainnya, adalah dengan sempurnanya agama Islam ini, sebagaimana telah difirmankan oleh Allah,
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Aku sempurnakan bagi kalian nikmat-Ku, dan Aku ridhai Islam sebagai agama kalian.” [Q.S. Al MaidaH:3].
Dalam ayat ini Allah mengkabarkan bahwa agama Islam telah Allah sempurnakan bagi kita. Dan nikmat yang tidak diberikan kepada selain umat islam. Kesempurnaan islam meliputi segala sesuatu baik dari segi akidah, akhlak, muamalah, ibadah dan lain sebagainya. Sehingga semua perkara yang baik bagi manusia di dunia dan akhirat telah dijelaskan. Demikian pula setiap perkara yang jelek bagi manusia di dunia dan akhirat pasti telah disebutkan larangannya. Bukan hanya landasan dan pokok dalam agama saja yang telah Allah sempurnakan. Tetapi kesempurnaan ini mencakup seluruh aspek kehidupan. Bahkan dalam perkara buang air besar yang sebagian orang kurang mempehatikannya. simaklah apa yang disampaikan oleh seorang shahabat yang mulia Abu Dzar Al Ghifari z yang mengatakan,Rasulullah ` telah meninggalkan kita, dan tidaklah ada satu burung pun yang mengepakkan sayapnya, kecuali beliau telah menyebutkan ilmu tentangnya. kemudian beliau berkata, Rasulullah telah bersabda, ‘tidaklah ada yang tersisa dari sesuatu yang mendekatkan diri kepada surga dan menjauhkan dari neraka kecuali (semua) telah dijelaskan kepada kalian.” [H.R. Thabarani dengan sanad yang shahih].
Sudah sepatutnyalah kita bersyukur kepada Allah dengan pemberian nikmat ini, suatu pemberian yang membuat iri orang kafir, sebagaimana hal tersebut telah disampaikan oleh Thariq bin Syihab z, “seorang yahudi berkata kepada Umar bin Khatab z,, sesungguhnya kalian (kaum muslimin) membaca suatu ayat yang apabila ayat tersebut diturunkan kepada kami, pasti kami akan menjadikan hari tersebut sebagai hari raya. Maka Umar bertanya, “ayat apakah itu?”, mereka menjawab, ”“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Aku sempurnakan bagi kalian nikmat-Ku, dan Aku ridhai Islam sebagai agama kalian.” [H.R. Al Bukhari dan Muslim]. Tentu saja syukur ini kita wujudkan dengan cara mengamalkan syariat yang sempurna ini. Dengan perbuatan, perkataan dan hati. Bukan sekedar ucapan syukur yang hanya manis dibibir saja.
Merupakan perkara yang tidak kita pungkiri, bahwa kaum muslimin banyak melakukan perkara yang tidak disyariatkan dan diajarkan oleh Rasulullah ` ,seakan-akan agama Allah masih membutuhkan banyak tambahan. Lalu kesempurnaan apalagi yang masih perlu ditambahkan setelah Allah tetapkan kesempurnaan agama ini?
Ibarat satu tubuh yang sempurna tentu tidak akan bertambah sempurna ketika ditambahkan anggota tubuh yang lain. Justru, tubuh itu akan menjadi cacat dan hilang kesempurnaannya. Demikian pula agama yang telah sempurna ini, tentu tidak perlu tambahan syariat baru yang justru akan mencacatnya.
Oleh sebab itulah Imam Malik v berkata setelah menyebutkan ayat di atas, “Segala sesuatu yang pada hari itu bukan agama, pada hari ini pun bukan merupakan agama.”.
  Sehingga sudah sepatutnya kita bersyukur kepada Allah dengan cara mengamalkan kewajiban kita, menjauhi apa yang haram bagi kita, dan bukan dengan melakukan ibadah yang tidak dituntunkan. Allahu a’lam. [Hammam].

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *
*


*Ketik kode di bawah ini
You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

. Anak Ņőƞ6K®0ń6 .


Sobat yang ku sayangi,
pernah dong kamu melihat teman-teman kamu nongkrong di pinggir jalan? Atau, justru kamu sendiri yang sukanya nongkrong-nongkrong (hayo)? Tahu nggak? Ternyata, ajaran Islam yang kamu anut sudah mengatur acara kongkow-kongkow di pinggir jalan ini. Apa itu? Jedeng deng… Baca ada deh…


  1. Jagalah Mata. Jangan Kau Kotori.
Mata adalah jendela hati. Jika jendelanya melihat barang-barang yang kotor, nanti apa yang masuk ke hati juga hal-hal yang kotor. Sayangi mata kamu. Kami nggak promosiin tetes mata kok. Kami mau mengingatkan firman Allah ta’ala:
“Katakan kepada orang-orang mukmin laki-laki untuk menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka. Hal itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakan kepada orang-orang mukmin perempuan untuk menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka…” [Q.S. An-Nur:30-31]. Jadi, kalau kamu mau cuci mata, bukan dengan melihat apa yang Allah haramkan. Baca aja Kalamullah, dijamin, mata kamu menjadi terang di hari kiamat nanti, Insya Allah.
  1. Tidak Mengganggu.
Kamu mengaku muslim ‘kan? Kalau ya (tapi masak sih nggak), kamu harus mengamalkan hadits Rasulullah ` yang maknanya seperti ini, “Seorang muslim adalah orang yang muslimin lainnya selamat dari lisan dan tangannya.” [H.R. Al-Bukhari dan Muslim]. Jadi, nggak ada kamusnya seorang muslim jadi preman yang lagi mangkal di pinggir jalan.
  1. Perintah Yang Baik, Larang Yang Buruk.
Salah satu adab seorang muslim waktu di pinggir jalan adalah memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang mungkar. Rasulullah ` pernah mengatakan, “Jauhilah oleh kalian untuk duduk-duduk di jalan.” Para sahabat mengatakan, “Kami harus melakukannya. Itu hanya tempat kami berbincang.” Rasulullah ` pun mengatakan, “Jika kalian enggan kecuali untuk duduk-duduk, maka tunaikanlah hak di jalan.” Mereka menanyakan, “Apa itu hak di jalan?” Rasulullah ` menjawab, “Menundukkan pandangan, tidak mengganggu, menjawab salam, dan memerintahkan yang ma’ruf serta melarang dari yang mungkar.” [H.R. Al-Bukhari dari Abu Sa’id Al-Khudri z].
  1. Mulutmu. Harimaumu.
Hati-hati sama yang namanya mulut. Kenapa? Karena mulut memiliki lidah tak bertulang *Lho apa hubungannya?*. Serius, mulut ini bisa menjerumuskan kamu ke dalam neraka. Coba simak sabda Rasulullah ` berikut ini (langsung diterjemahkan ke bahasa Indonesia aja yah), “Sesungguhnya seorang hamba mengatakan suatu kalimat, ternyata bisa menyebabkannya turun ke dalam neraka yang lebih jauh daripada timur dan barat.” [H.R. Al-Bukhari dan Muslim]. Makanya, kalau nggak mau jatuh ke neraka gara-gara mulut kamu, jaga harimaumu!
  1. Makan Bangkai Nggak Enak Lho.
Tahu nggak sih kalau seringkali tanpa sengaja kita makan bangkai saudara kita? Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi yang lainnya. Apakah salah seorang dari kalian suka untuk memakan daging saudaranya yang telah mati sehingga dia membencinya.” [Q.S. Al-Hujurat:12]. Ghibah adalah menyebutkan apa yang saudaranya benci tanpa diketahuinya (boleh kamu sebut: gosip, ngerumpi, ngomongin orang, atau yang lainnya).
Seorang ulama, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah v, menjelaskan di dalam bukunya I’lamul Muwaqqi’in bahwa penyerupaan ghibah dengan memakan bangkai saudaranya karena ghibah biasanya rasanya nikmat seperti makan; dengan menyebutkan kejelekan saudaranya muslim tapi saudaranya ini tidak bisa membela dirinya seperti manusia yang mati. Intinya, nggak usah ghibah deh.
  1. Perhatikan Waktumu.
Waktu adalah ibadah, ini prinsip seorang muslim sejati. Kamu muslim sejati ‘kan? Nggak pantas dong kamu melalaikan waktu kamu. Jangan sampai gara-gara keasyikan nongkrong jadi lupa deh tugas-tugas wajibnya, apalagi shalatnya.
  1. Majelis Nongkrong = Majelis Dzikir.
Biar nongkrong kamu nggak rugi, ada sebuah tips yang dikasih oleh Rasulullah `. Beliau ` bersabda (artinya), “Tidaklah suatu kaum duduk dalam suatu majelis tapi dia tidak berdzikir kepada Allah dan tidak bershalawat kepadaku, kecuali hal itu akan menjadi penyesalan baginya. Jika Allah kehendaki, Dia akan mengazabnya, jika Allah kehendaki, Dia akan mengampuninya.” [H.R. At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani].

Nah, itu tadi hal-hal yang perlu kamu perhatikan waktu nongkrong. Kalau kamu nongkrongnya kayak gitu, boleh deh nongkrongnya. Kalau nggak, buang aja kebiasaan nongkrong kamu itu, ganti dengan kebiasaan yang lebih bermanfaat dan bernilai di sisi Allah.

Nongkrong di Majelis Ta’lim
Nongkrong sambil dikerubungi malaikat. Mau? Bisa. Caranya, tinggal datang aja ke majelis taklim yang dasarnya Al-Quran dan sunnah, tongkrongin tuh majelis. Datang dengan baju rapi, duduk yang manis, terus dengerin baik-baik nasihatnya. Insya Allah malaikat turun dan mengelilingi majelis kamu. Nggak cuma itu, rahmat juga akan turun ke dalam majelis ini plus seabrek keutamaan lainnya. Soalnya, Rasulullah ` pernah bersabda (yang artinya), “Tidaklah suatu kaum berkumpul di dalam sebuah rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca Kitabullah, saling mempelajarinya di antara mereka, kecuali akan turun kepada mereka ketenteraman, rahmat akan meliputi mereka, malaikat mengelilingi mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka pada makhluk yang di sisi-Nya (malaikat).” [H.R. Abu Dawud dari Abu Hurairah z]. Sebenarnya, nggak cuma ini yang kamu dapatkan kalau kamu datang ke majelis ta’lim, masih banyak hadits yang menjelaskan tentangnya. Cuma, kalau kami sebutkan semuanya, nanti halaman kita tambah paaanjaang dan leeebaaar, jadinya rubrik yang lain nggak kebagian tempat dong *curhat*. Ya udah ya. Allahu a’lam bish shawab. (abdurrahman)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *
*


*Ketik kode di bawah ini
You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Tinggalkan Susu Formula, Kembali ke ASI

website mereka tentang adanya beberapa merk susu formula yang tercemar Enterobacter Sakazakii. Meskipun sangat jarang, infeksi oleh bakteri ini dapat mengakibatkan penyakit yang sangat berbahaya hingga dapat mengancam jiwa, di antaranya adalah neonatal meningitis (infeksi selaput otak pada bayi), hidrosefalus (kepala besar karena cairan otak berlebihan), sepsis (infeksi berat) , dan necrotizing enterocolitis (kerusakan berat saluran cerna). Hingga saat ini, masyarakat masih menuntut pemerintah untuk mengumumkan nama-nama merk susu formula tersebut. Promosi produk susu formula memang sangat gencar melalui media-media, bahkan dengan cara “memaksa” ibu -  ibu yang melahirkan di rumah sakit untuk menggunakan produk mereka (cara ini sebenarnya dilarang melalui Keputusan Menteri Kesehatan No.237/Menkes/SK/IV/1997).
Sebenarnya, para Ibu tidak perlu terlalu cemas apabila mereka tidak mengkonsumsi susu formula dan hanya memberikan ASI (Air Susu Ibu) kepada anak mereka. Namun, walau ASI terbukti memiliki sumber gizi terlengkap yang tidak tergantikan oleh susu formula sekalipun,  sayangnya di kehidupan modern sekarang ini, dengan banyaknya akifitas ibu-ibu di luar rumah dalam berkarier, membuat mereka sering tidak sempat untuk menyusui anak mereka.
Padahal, Allah berfirman :
Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. (QS Al Baqarah: 233)
Pembaca yang dirahmati Allah…
Sedemikian besarnya perhatian Islam terhadap tumbuh kembang anak, hingga masalah menyusui pun diatur dalam Islam. Menyusui bukan hanya memberi asupan gizi kepada anak-anak. Tetapi juga sebagai sarana berkomunikasi antara ibu dan anak. Tangisan bayi adalah wujud komunikasi antara ia dan ibunya yang sudah selayaknya diperhatikan. Karena bayi belum bisa berbicara. Dia baru saja mengenal dunia ini. Satu-satunya yang ia kenal hanyalah ibunya yang selama ini telah mengandungnya. sehingga sudah selayaknya kebutuhannya dicukup dengan maksimal oleh Ibunya sendiri.

Pemberian ASI secara tidak langsung dengan cara memerah ASI dari payudara lalu dimasukkan ke botol susu, siap diminumkan ke anak juga tidak tepat. Cara seperti ini menyebabkan tidak adanya komunikasi dengan antara ibu dan anak. Anak juga tidak bisa menambah permintaan ASI, karena sudah “dijatah” oleh ibunya. Padahal komunikasi melalui dekapan kasih sayang sang Ibu, merupakan hal yang amat dibutuhkan oleh jiwa sang buah hati yang masih amat rapuh. Ibu yang shalihah, dengan rambatan kasih sayangnya akan membentuk akhlak yang baik bagi sang buah hati.
Ibnu Qoyyim mengatakan,
“Perhatian yang serius pada bayi setelah kelahiran amat ditekankan, dan tingkat keawasan pada mereka harus tinggi. Karena ranting pohon dan cabang-cabangnya ketika masih melekat kuat pada batang utamanya, dan terkait dengannya, maka angin tidak mampu menggoyang dan mencabutnya. Tetapi ketika dipisahkan dan ditanam di tempat lain, maka bahaya mengancamnya dan angin yang lembut sekalipun akhirnya mampu mencabutnya” (Tuhfatul Maudud Fi Ahkamil Maulud)
Namun, tidak dipungkiri juga banyak terjadi kasus dimana seorang ibu, ASInya tidak bisa keluar secara maksimal. Bisa karena kurangnya nutrisi si Ibu sendiri, ataupun kondisi fisik yang lemah. Namun yang paling banyak biasanya karena faktor emosional. Walaupun kondisi tubuh si Ibu bagus, apabila ia tidak siap secara mental untuk menyusui, maka ASI nya tidak bisa keluar dengan lancar. Banyak-banyaklah membaca referensi mengenai ASI, agar merasa mantap bahwa menyusui, memberikan ASI secara langsung akan memberikan hasil yang terbaik untuk sang buah hati.
Lalu bagaimana jika jumlah air susunya sedikit, namun kebutuhan si buah hati cukup besar? Misal apabila anak terlahir kembar, yang tentunya kebutuhan ASI menjadi berlipat-lipat. Sejatinya, produksi air susu itu berjalan terus. Apabila habis, dia akan terus memproduksi lagi. Yang menjadi masalah sebenarnya adalah rasa lelah yang dialami oleh sang Ibu karena harus menyusui bayinya terus. Disinilah peran suami untuk selalu mendukung, menyemangati, dan membantu baik moral maupun materiil, agar istri bisa menyusui anaknya secara maksimal.
Namun, apabila semua usaha sudah dilakukan, namun tetap air susunya tidak cukup, atau bahkan tidak keluar, maka boleh mengkonsumsi susu formula. Namun yang perlu ditekankan, bahwa susu formula bukanlah yang utama namun hanya sebagai pengganti ASI,
Dari berbagai pemaparan diatas, maka tidak ada lagi alasan bagi seorang Ibu, untuk menolak menyusui anaknya secara langsung.
Semoga Allah memudahkan kita untuk memberikan yang terbaik bagi putra dan putri kita, agar mereka tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas.
Wallahu alam bish showwab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *
*


*Ketik kode di bawah ini
You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Islam, Agama Sehat

Banyak citra dihembuskan untuk menjelekkan Islam. Islam digambarkan sebagai agama yang kumuh, kolot, terbelakang, dan jauh dari kesehatan. Pemeluknya dianggap tidak mementingkan kesehatan dan keindahan. Realitanya, banyak hadits dan atsar-atsar ulama menganjurkan untuk memerhatikan kesehatan. Rasulullah ` pun pernah menyabdakan:

تَدَاوَوْا فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلاَّ وَضَعَ لَهُ دَوَاءً غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ الْهَرَمُ

“Berobatlah karena Allah U tidak menurunkan penyakit kecuali pasti menurunkan obatnya, kecuali satu penyakit: pikun.” [H.R. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani].
Imam Asy-Syafi’i v mengatakan, “Aku tidak mengetahui ilmu yang lebih cerdas setelah ilmu mengenai halal dan haram daripada ilmu kedokteran.” Hal ini karena ilmu dibagi menjadi dua: ilmu mengenai agama dan ilmu mengenai badan. Ilmu yang pertama membahas kesehatan rohani sedang ilmu yang kedua membahas kesehatan jasmani. Demikianlah, agama Islam sangat perhatian terhadap perkara kesehatan.
Rasulullah ` juga telah memberitakan beberapa jenis pengobatan yang sejatinya merupakan mukjizat bagi beliau. Di mana, dengan penelitian modern tersingkap secara klinis manfaat dan kegunaannya.

  1. Madu
Siapa yang tak kenal madu. Minuman kental yang manis ini sudah dipercaya sejak lama sebagai obat manjur dan lezat. Di dalam Al-Quran Allah berfirman yang artinya, “Keluar dari perut lebah minuman yang bermacam-macam warnanya di dalamnya ada obat bagi manusia.” [Q.S. An-Nahl:69].
Madu banyak mengandung gula. Karena gula yang dikandung madu adalah gula sederhana, energi madu mudah diserap tubuh. Walau begitu, gula yang dikandung madu memiliki kalori 40% lebih rendah daripada kalori gula biasa (sukrosa). Artinya, meski madu memberikan energi yang besar, madu tidak menambah berat badan. Inilah alasannya madu sangat baik untuk orang yang membutuhkan energi spontan seperti para olahragawan hingga orang yang berniat diet kalori.
Selain gula, madu juga mengandung mineral-mineral penting seperti Magnesium, Kalium, Kalsium, Belerang, Besi, dan Sulfat. Madu juga mengandung vitamin-vitamin B1, B2, B3, B5, B6, dan C. Kandungan ini sangat tergantung pada nektar dan jenis bunga.
Madu memiliki sifat melawan bakteri. Mengoleskan madu pada luka bisa mencegah infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Pada kasus luka bakar, madu juga bisa digunakan untuk mempercepat penyembuhan karena lebih cepat mengeringkan luka.

  1. Habbatus Sauda (Nigella sativa)
Di Indonesia, Habbatus Sauda` sering juga disebut dengan jintan hitam. Biji bunga yang berwarna hitam ini memiliki khasiat yang sangat banyak. Rasulullah ` pernah bersabda, “Sesungguhnya habbatus sauda` adalah obat dari segala penyakit kecuali kematian.” [H.R. Al-Bukhari dan Muslim].
Habbatus sauda` mengandung banyak gizi yang sangat bermanfaat bagi tubuh. Sterol dan beta-sitosterol yang merupakan zat anti tumor membuktikan sahnya habbatus sauda` untuk digunakan sebagai obat anti tumor. Juga dilaporkan bahwa minyak habbatus sauda` efektif untuk merawat orang yang kecanduan.
Peneliti di Pusat Kanker Kimmel, Universitas Thomas Jefferson di Philadelpia menemukan bahwa thymoquinone dalam ekstrak minyak jintan hitam mampu memblokir pertumbuhan sel kanker pankreas dan membunuh sel tersebut dengan memprogram semacam ‘bunuh diri’ bagi sel kanker tersebut yang sering disebut proses apoptosis.
Namun, meminum jintan hitam tidak boleh overdosis. Jintan hitam memiliki kandungan melanthin dan nigilline. Melanthin beracun dalam dosis besar dan nigelline memiliki pengaruh membuat lumpuh, maka jintan hitam harus dikonsumsi dalam jumlah yang tidak terlalu banyak.

Inilah sekilas ulasan dua buah obat mujarab yang disebutkan oleh Rasulullah `. Hal ini juga menjelaskan kepada kita bahwa Islam bukan agama yang tidak mencintai kesehatan. Islam adalah agama sehat di bawah wahyu ilahi yang menjamin manjur dan mujarabnya obat dan metode yang dipakai. Allahu a’lam bish shawab. (abdurrahman)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *
*


*Ketik kode di bawah ini
You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Pengikut